WISH FEMI HERBS

WISH FEMI HERBS

Kategori

Anak dan Orangtua (13) Cerita cinta (10) Cerita inspiratif (44) Kutipan inspiratif (7) moral (40) Sikap (45) Tips (8) Video (2)
Showing posts with label Anak dan Orangtua. Show all posts
Showing posts with label Anak dan Orangtua. Show all posts

Saturday, December 22, 2012

Dia, yang Dihargai oleh Anak-anaknya, dan Dipuji oleh Suaminya



Seorang anak mendapati ibunya sedang sibuk di dapur, lalu menuliskan sesuatu di selembar kertas.
Ibunya mengambil kertas tersebut, kemudian membacanya.

Tagihan upah membantu Ibu :
- Membantu ke warung 20,000
- Menjaga adik 20,000
- Membuang sampah 5,000
- Membereskan tempat tidur 10,000
- Menyiram bunga 15,000
- Menyapu lantai 15,000
  Jumlah seluruhnya : 85,000

Selesai membaca, Ibu tersenyum, mengambil pena dan menulis di belakang kertas yang sama :

- Mengandung selama 9 bulan. 
                 GRATIS
- Jaga malam karena menjaga mu
                 GRATIS
- Airmata yg menetes karena mu.
                 GRATIS
- Kuatir memikirkan keadaan mu
                 GRATIS
- Menyediakan makan, minum, pakaian, dan keperluan mu.
                 GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasih ku.
                 GRATIS

Air mata anak berlinang, lalu dia memeluk ibunya dan berkata :
 "Aku Sayang Ibu".
Lalu dia mengambil pena dan menulis di kertas itu: "LUNAS"

Sayangilah dan tunjukkanlah sayang mu kepada ibu kita selama ia masih ada, karena akan ada saatnya ibu kita tidak akan ada lagi.

Selamat Hari Ibu!



>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya
>>> Info gadget-gadget keren
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Friday, March 2, 2012

Betapa Besar Cinta Seorang Ibu

Usianya sudah lebih dari 70 tahun. Berjalan pun tertatih-tatih, sehingga jarang sekali ia mau keluar rumah, rumah jompo. Putrinya tidak menginginkan kehadirannya lagi di rumah. Masih teringat berapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya. Ayah dari putrinya menghilang setelah menghamilinya. Keluarganya menuntut agar ia menggugurkan kandungannya saja karena malu, tetapi ia tetap mempertahankannya. Ia pun diusir dari rumah orang tuanya.

Selain aib yang harus ia tanggung, ia juga harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Tak ada seorang pun yang mendampinginya ketika ia melahirkan putrinya. Walaupun demikian ia tetap merasa sangat bahagia karena Tuhan memberkatinya dengan seorang putri. Ia bertekad mengasihi sepenuh hati putrinya, bahkan menamai putrinya: Kasih.

Siang hari ia harus bekerja di pabrik, malamnya ia menjahit sampai larut malam demi mendapatkan penghasilan tambahan. Hari Sabtu dan Minggu pun ia gunakan untuk bekerja sambilan di sebuah restoran. Semua itu ia alakukan agar ia dapat membiayai kehidupan dan sekolah putrinya. Ia tidak mau menikah lagi, masih berharap suatu saat ayah kandung Kasih kembali ke sisinya.

Karena perjuangan dan pengorbanannya ibunya, Kasih bisa melanjutkan pendidikan  di luar kota. Di sana Kasih jatuh cinta pada seorang pemuda dari keluarga kaya. Kasih tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih punya orang tua. Ia merasa malu ditinggal oleh ayah kandungnya, dan ia merasa malu dengan pekerjaan ibunya. Kepada kekasihnya, ia mengaku bahwa orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat Kasih menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh, ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidak diinginkan. Ia hanya bisa berdoa agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak itu ia tidak mendengar lagi kabar dari putrinya, karena ia dilarang untuk menghubungi putrinya.

Pada suatu hari ia mendengar kabar bahwa Kasih sudah melahirkan seorang bayi lelaki. Sangat bahagia sekali hatinya dan karena ia ingin dekat dengan anak dan cucunya, ia mencoba melamar sebagai pembantu di keluarga putrinya. Ia diterima untuk bekerja di sana. Ia diijinkan menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai nenek, melainkan hanya sebagai pembantu biasa. Ia bersyukur sekali karena Tuhan telah mengabulkan keinginannya. Selama bekerja, ia diperlakukan layaknya pembantu biasa oleh kasih. Bahkan seringkali dibentak dan dimarahi oleh darah dagingnya sendiri. Ia hanya bisa menangis dan berdoa di kamarnya, memohon agar Tuhan memaafkan kesalahan putrinya, agar hukuman atas kesalahan putrinya dilimpahkan saja kepada dirinya. Belakangan ia pun jatuh sakit dan tidak mampu bekerja lagi. Menantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini, sehingga ia memasukkan nenek ini ke rumah jompo untuk menghabiskan sisa hidupnya di sana.

Bertahun-tahun ia tinggal di rumah jompo itu, tidak bisa lagi melihat putri dan cucunya. Dengan usia yang sudah tua dan kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, suatu hari ia merasa bahwa waktunya di dunia ini sudah hampir habis. Hanya ada satu keinginannya sebelum ia meninggal dunia, yaitu ingin bertemu dan melihat putrinya sekali lagi. Selain itu ia pun ingin memberikan seluruh uang simpanan yang telah ia kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya. Cuaca di luar bersalju dan sangat dingin. Ia harus dua kali ganti bus karena jarak dari rumah jompo ke rumah putrinya cukup jauh. Sebuah perjalanan yang tidak mudah untuk seorang nenek sakit-sakitan dalam cuaca seperti ini.

Amat kelelahan dan kedinginan, ia menekan bel di pintu rumah putrinya, dan kebetulan, putrinya sendiri yang membukakan pintu. "Nak, ibu datang untuk memberikan hadiah natal untumu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin untuk terakhir kalinya. Bolehkah ibu masuk sebentar saja karena di luar dingin sekali dan ibu sudah tidak kuat lagi nak." demikian ia memohon kepada putrinya. Dengan nada kesal Kasih menjawab, "maaf, sebentar lagi kami akan kedatangan tamu seorang pejabat tinggi. Lain kali kalau mau datang telefon dulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" Setelah itu pintu langsung ditutup. Kasih malah mengusir ibunya sendiri seperti mengusir pengemis.

Beberapa saat kemudian bel rumah berbunyi lagi, ternyata ada orang yang ingin pinjam telefon. "Maaf bu, mengganggu, tapi bolehkan kami pinjam telefonnya sebentar untuk menelefon kantor polisi, karena di halte di depan sana ada seorang nenek meninggal dunia. Sepertinya ia mati kedinginan."

Perempuan tua ini mati bukan karena kedinginan tubuhnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan hangatnya dicintai oleh putrinya sendiri, yang tak pernah bisa ia rasakan lagi. Sungguh tragis yang dialami oleh nenek ini, namun kisah hidupnya mengingatkan kepada kita semua bahwa seorang ibu bisa melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Seorang ibu mendoakan dan selalu ingat akan anaknya. Seorang ibu mampu menerima dengan sabar seburuk apa pun sikap anaknya kepadanya.

Mari kita renungkan sebentar saja. Kapan terakhir kali kita menelefon ibu? Mengundang ibu? Mengajak ibu-ibu pergi jalan-jalan? Kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dan ucapan terima kasih untuk ibu? Dan kapan terakhir kali kita berdoa untuk ibu?

Wednesday, February 29, 2012

Pinjam Lima Ribu Ma

Sudah larut malam ketika seorang wanita baru pulang kerja. Sangat jengkel karena harinya yang amat melelahkan, ia malah mendapati anaknya yang berusia 5 tahun sedang menunggunya di depan pintu.

Bocah: "Ma, bolehkah aku bertanya?"

Mama: "Ya tentu, apa itu?" jawab perempuan itu.

Bocah: "Ma, Mama bekerja 1 jam bisa dapat uang berapa? "

Mama: "Itu bukan urusan Kamu. Kenapa Kamu bertanya seperti itu?" Perempuan itu gusar.
Bocah: "Aku cuma ingin tahu saja Ma"

Mama: "Kalau Kamu mau tahu, Mama bisa dapat sepuluh ribu rupiah sejam."

Bocah: "Oh," jawab anak kecil itu, dengan kepala tertunduk ke bawah.

Bocah: "Ma, bolehkah aku meminjam lima ribu?"

Sang ibu sangat marah, "Kamu tanya-tanya seperti itu untuk meminjam uang, pasti untuk beli mainan kan? Cepat masuk ke kamar, tidur. Mama kerja keras tiap hari bukan untuk hal-hal konyol seperti itu."

Anak kecil itu diam, pergi ke kamarnya dan menutup pintu..

Ia merebahkan badannya di sofa, pertanyaan anaknya tadi masih terngiang di telinganya. Berani-beraninya dia bertanya seperti itu hanya untuk mendapatkan uang.

Setelah sekitar satu jam atau lebih, ia sudah merasa lebih tenang, dan mulai berpikir:

Mungkin ada sesuatu yang benar-benar dia butuhkan dengan uang lima ribu itu, dan dia juga sebenarnya tidak terlalu sering minta uang. Lalu ia beranjak ke kamar anaknya dan membuka pintu.

"Kamu sudah tidur, Nak?" Tanyanya.

"Belum Ma" jawab anak itu.
"Maaf ya Nak, Mama tadi terlalu keras padamu. Hari ini benar-benar melelahkan untuk Mama. Ini uang lima ribu yang Kamu minta."

Anak kecil itu duduk tegak sambil tersenyum, "oh, terima kasih Ma!" teriaknya. Kemudian, ia malah mengambil beberapa lembar uang yang sudah kusut di bawah bantalnya.

Melihat bahwa anak itu ternyata sudah punya uang, ia mulai senewen lagi.

Anak kecil itu perlahan menghitung uangnya, lalu menatap ibunya.
 
"Buat apa Kamu minta uang lagi?" si ibu menggerutu.

"Karena tadi  tidak cukup Ma, tapi sekarang sudah cukup," jawab anak kecil itu.

"Ma, aku punya sepuluh ribu sekarang, bolehkah aku beli satu jam waktu Mama? Mohon besok Mama pulang lebih cepat besok, aku ingin makan malam sama Mama."
 Dia segera memeluk anaknya, dan memohon maaf kepadanya.

Monday, February 27, 2012

Disconnect to Stay Connected

"Terkadang kita kurang menghiraukan orang-orang yang paling penting dalam hidup kita, tapi sekarang saatnya untuk berubah dan membuat mereka tahu betapa berartinya mereka bagi kita. Sebuah iklan layanan masyarakat yang luar biasa!"


dari YouTube

Berbakti Membawa Kebahagiaan

"Tidak ada benih, mana ada buah"
"Tidak ada orang tua, mana ada kita"
"Tidak ada balas jasa, mana ada kebahagiaan'

Di seluruh penjuru dunia, selalu ada cerita-cerita mengenai anak yang tidak berbakti, yang durhaka, yang akhirnya selalu tertimpa kemalangan dan hidupnya berakhir dengan tragis.
Benarkah demikian?
Apakah cerita-cerita itu hanya karangan belaka, atau memang demikian adanya?

Tak ada manusia di dunia ini yang tidak mengharapkan anak-anaknya menjaga, merawat, memperhatikan, dan menghormati dirinya. Apalagi di usia senja nanti, saat anak menjadi tumpuan dan sandarannya.

Tetapi pernahkah terbayangkan bahwa bila diri sendiri sekarang tidak berbakti, tidak hormat, tidak patuh, tidak peduli kepada orang tua, lalu apakah di masa tuanya nanti bisa mengharapkan anak-anaknya berbakti?

Keluhuran manusia tidak diukur dari harta kekayaan, pangkat kedudukan, atau pengetahuan. Melainkan dari budi pekerti.Budi pekerti diukur dari sikap perilaku dan perbuatan. Perilaku dan perbuatan yang paling utama dari segala kebajikan tidak lain adalah berbakti kepada orang tua.

Orang-orang bijak berkata:
"Tidak menghormati dan mencintai orang tua, berarti melawan dan mengkhianati etika kemanusiaan. Di antara sekian banyaknya dosa manusia, maka tidak berbakti adalah dosa yang terbesar"
"Apabila pada suatu waktu, dalam mengerjakan segala hal selalu menemui rintangan dan kegagalan, maka cobalah introspeksi diri. Apakah ada kekurangan dalam melayani orang tua, apakah sudah menjalankan bakti dengan sesungguhnya?"
"Budi jasa orang tua tiada batasnya, sehingga sungguh sulit menebus dosa dari orang yang tidak berbakti"

Bopsy, si Pemadam Kebakaran Cilik

Seorang ibu berusia 26 tahun menatap putranya yang sedang sekarat karena leukemia akut. Meski hatinya dipenuhi dengan kesedihan, ia berusaha untuk tabah. Sebagaimana setiap orang tua, ia ingin anaknya untuk tumbuh dan mencapai impian dan cita-citanya. Namun kini sepertinya tidak mungkin lagi, leukemia sedang menguji mereka.

Tapi ia masih ingin mimpi anaknya menjadi kenyataan. Dia memegang tangan anaknya dan bertanya, "Bopsy sayang, apakah Kamu pernah berpikir tentang ingin menjadi apa Kamu setelah besar nanti?"

"Ma, aku selalu ingin menjadi petugas pemadam kebakaran kalau saya sudah besar." Si ibu tersenyum kembali dan berkata, "Mari kita coba apakah kita dapat membuat keinginanmu menjadi kenyataan."

Kemudian ia pergi ke kantor pemadam kebakaran di kota, di mana dia bertemu seorang petugas pemadam kebakaran bernama Bob. Dia menjelaskan keinginan terakhir anaknya kepada Bob dan bertanya apakah memungkinan bagi putera 6 tahunnya itu untuk ikut berkeliling di sekitar dengan mobil pemadam kebakaran.

Bob berkata, "Coba, kita bisa lebih baik dari itu. Kalau hari Rabu pukul tujuh pagi Ibu dan Bopsy bersiap, kami akan membuat dia menjadi petugas pemadam kebakaran kehormatan untuk sepanjang hari. Dia bisa ikut ke stasiun pemadam kebakaran, makan bersama kami, pergi keluar menanggapi panggilan kebakaran, semuanya." Dan jika Ibu memberitahu kami ukuran badannya, kami akan buatkan seragam pasukan pemadam kebakaran sungguhan untuknya, dengan topi kebakaran sungguhan - bukan mainan - dengan emblem Kantor Pemadam Kebakaran di atasnya, jas hujan kuning seperti yang kami pakai dan sepatu bot karet. Itu semua diproduksi di sini, jadi tidak sulit untuk memperoleh semua itu. "

Hari Rabu pagi, Bob menjemput Bopsy, memakaikan seragam dan perlengkapan pemadam kebakaran kepadanya, dan menuntunnya dari ranjang rumah sakit ke mobil pemadam kebakaran yang sudah menunggu. Bopsy ikut duduk di belakang kemudi dan turut menyetir mobil kembali ke stasiun pemadam kebakaran. Dia merasa seperti di surga.

Ada tiga panggilan kebakaran di hari itu dan Bopsy ikut serta pada ketiga panggilan itu. Dia naik mobil pemadam kebakaran yang berbeda-beda, mobil paramedis, dan bahkan mobil kepala pasukan pemadam kebakaran itu. Dia juga disorot kamera video untuk program berita lokal.

Memiliki impian yang menjadi kenyataan, dengan semua cinta dan perhatian yang dicurahkan kepadanya, Bopsy sangat tersentuh dan ia mampu hidup tiga bulan lebih lama dari perkiraan para dokter.

Suatu malam semua tanda-tanda vitalnya mulai turun drastis dan kepala perawat mulai memanggil anggota keluarga ke rumah sakit. Lalu ia teringat Bopsy pernah menghabiskan satu hari sebagai petugas pemadam kebakaran, sehingga ia juga segera menghubungi kepala pemadam kebakaran dan bertanya apakah bisa untuk mengirim seorang petugas pemadam kebakaran, berseragam lengkap, ke rumah sakit untuk menemani Bopsy.

Kepala pemadam kebakaran menjawab, "Kita bisa lebih baik dari itu. Kami akan ke sana dalam lima menit. Maukah Anda membantu saya? Bila Anda mendengar dan melihat sirene, tolong Anda umumkan lewat pengeras suara bahwa bukan ada kebakaran, hanya ada pemadam kebakaran yang datang untuk melihat salah satu anggota terbaiknya sekali lagi. Lalu bisakah Anda membuka jendela kamarnya? "

Sekitar lima menit kemudian sebuah mobil pemadam kebakaran tiba di rumah sakit, menjulurkan tangganya ke jendela kamar Bopsy di lantai tiga yang sudah terbuka, dan lima orang petugas pemadam kebakaran naik tangga ke kamar Bopsy itu. Dengan seijin ibunya, mereka memeluk Bopsy dan mengatakan kepadanya betapa mereka mencintainya. Dengan nafas terakhirnya, Bopsy memandang kepala pasukan pemadam kebakaran dan berkata, "Pak, saya benar-benar seorang pemadam kebakaran sekarang?" "Ya Bopsy, Kamu seorang pemadam kebakaran sekarang," kata sang kepala pemadam kebakaran. Dengan kata-kata itu, Bopsy tersenyum dan menutup matanya. Dia meninggal dunia malam itu.

Sunday, February 26, 2012

Words of Virtue

Budi orang tua amatlah besar, seperti matahari yang bersinar terang
Ada dua hal yang tidak dapat ditunda di dunia ini, berbakti kepada orang tua, dan berbuat kebajikan
Anak yang berbakti kepada orang tua adalah anak yang beruntung
Berbakti kepada orang tua, berarti tidak membuat mereka cemas

Saturday, February 25, 2012

Mangkuk Kayu

Seorang kakek tua tinggal bersama anaknya, menantunya, dan cucunya yang berusia empat tahun. Tangan orang tua itu sudah gemetar, penglihatannya sudah kabur, dan langkah kakinya sudah tersendat-sendat. 
Keluarga itu tengah makan malam ketika si kakek, karena tangannya yang gemetar dan pandangan yang kabur, agak kesulitan untuk makan. Kacang berguling dari sendoknya ke lantai. Ketika dia memegang gelas susu sering tumpah di taplak meja. Hal ini sudah berulang kali terjadi dan anggota keluarga yang lain menjadi terganggu karenanya. Mereka sudah muak dengan susu yang tumpah, makanan mengotori lantai, dan berisik. Mereka lalu menyiapkan sebuah meja kecil di sudut agar si kakek makan sendirian saja di sana sementara anggota keluarga lainnya menikmati makan malam di meja makan. Karena sudah beberapa kali si kakek memecahkan mangkuknya, makanannya juga dihidangkan menggunakan mangkuk kayu. Kadang-kadang ketika pasangan itu melirik ke arah si kakek yang sedang makan sendirian, terlihat sedang menitikkan air mata. Si bocah kecil hanya diam menyaksikan semuanya.

Suatu malam sebelum makan malam, sang ayah melihat anaknya bermain dengan potongan-potongan kayu di lantai. Dia bertanya kepada anaknya, "kamu sedang apa Nak?" Anak itu menjawab, "Oh, aku sedang membuat mangkuk kecil untuk Ayah dan Ibu ketika aku dewasa nanti." Anak itu tersenyum dan kembali sibuk dengan mangkuk buatannya. Jawaban polos bocah itu begitu mengganggu pikirannya, dan air mata mulai mengalir. Meskipun tidak ada kata diucapkan, mereka berdua tahu apa yang harus dilakukan. Malam itu si ayah memegang tangan kakek dan dengan lembut membawanya kembali ke meja keluarga.

Selama sisa hari-harinya, ia makan di meja yang sama dengan keluarganya lagi. Dan mereka pun sudah tidak merasa terganggu ketika garpu jatuh, susu tumpah, atau taplak meja yang kotor.

Anak-anak sangat peka. Mata mereka mengamati, telinga mereka mendengarkan, dan pikiran mereka memproses pesan-pesan mereka tangkap. Jika mereka melihat kita dengan sabar menata suasana rumah tangga yang bahagia bagi anggota keluarga, mereka kemudian akan meniru sikap yang sama untuk sepanjang hidup mereka. Orang tua yang bijaksana menyadari bahwa setiap hari masa depan anak mereka sedang terbentuk.

>>> Info gadget-gadget keren 
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Friday, February 24, 2012

Memahami dan Menghargai Kebaikan Orang Tua

1. Anak sering tidak mengerti orang tuanya selalu memuji anaknya di depan saudaranya, tanpa sepengetahuannya
2. Anak sering tidak mengerti bahwa semua yang di lakukan orang tuanya hanya untuk kebaikan masa depan anak
3. Anak sering tidak mengerti bahwa orang tuanya telah menjalani kehidupan yang lebih keras dibanding anak
4. Anak sering tidak mengerti bahwa di setiap doa dan harapan orang tua nama anak selalu di ingat dan disebut
5. Orang tua jarang sekali memberitahukan mengenai pengorbanannya selama melahirkan anda
6. Orang tua telah mempersiapkan  warisan terbaik (tidak selalu harta) untuk anaknya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan
7. Orang tua tidak rela melihat anaknya hidup bersusah-susah di tempat orang lain.
8. Anak tidak mengerti setiap kali ia membentak, hati orang tua akan bergetar dan menyebabkan umurnya lebih pendek

BERKAT TUHAN

Seorang pemuda tengah mempersiapkan kelulusan kuliahnya. Sudah berbulan-bulan ia menginginkan sebuah mobil keren yang dipajang showroom itu. Tahu bahwa ayahnya mampu membelinya, dia menceritakan
keinginannya kepada ayahnya.

Menjelang hari wisuda yang semakin dekat, anak muda itu menunggu tanda-tanda bahwa ayahnya telah membelikan mobil impiannya. Akhirnya, pada hari kelulusannya sang ayah memanggilnya ke ruangan pribadinya. Ayahnya mengatakan kepadanya betapa bangganya ia untuk memiliki seorang putera yang baik, dan betapa ia mencintainya. Dia menyerahkan kepada anaknya sebungkus kado yang terbungkus indah.

Penasaran namun agak kecewa, anak muda itu membuka kotak itu dan menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampul kulit. Dengan marah, ia mengangkat suaranya pada ayahnya dan berkata, "Dengan semua uang Ayah, Ayah hanya memberi saya sebuah Kitab Suci"? Ia pun menyerbu keluar rumah, meninggalkan ayahnya dan Kitab Suci hadiahnya.

Beberapa tahun berlalu sejak kejadian itu, dan pemuda itu sudah berhasil dalam bisnisnya. Dia memiliki rumah yang indah dan keluarga yang luar biasa. Ia teringat akan ayahnya yang pasti sudah tua, dan berpikir untuk mengunjunginya. Ia sudah meninggalkan ayahnya sejak hari wisuda. Namun sebelum ia bisa mengatur jadwal untuk mengunjungi ayahnya, ia menerima kabar bahwa ayahnya meninggal dunia, dan menghendaki semua harta miliknya untuk anaknya. Ia diminta segera pulang ke rumah ayahnya untuk mengurus segala hal penting yang diperlukan.

Ketika tiba di rumah ayahnya, ia sedih dan tiba-tiba penyesalan memenuhi hatinya. Ia mulai mencari surat-surat penting ayahnya dan menemukan Kitab Suci hadiah dari ayahnya. Masih baru sama seperti ketika ia meninggalkannya beberapa tahun yang lalu. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia membuka Kitab Suci itu, halaman demi halaman hingga tiba-tiba sebuah kunci terjatuh dari sebuah amplop yang terselip di sampul belakang Kitab Suci itu. Di kunci itu tergantung label nama showroom mobil, showroom yang sama tempat mobil impiannya dipajang. Pada label di kunci itu tertera pula tanggal kelulusannya, dan kata-kata ... DIBAYAR TUNAI.

Berapa kali kita melewatkan berkat dan karunia Tuhan karena mereka tidak dikemas seperti yang kita harapkan?

Thursday, February 23, 2012

Master Cheng Yen

  • Bekerjalah dengan ikhlas, terima hasilnya dengan sukacita. Karena semakin banyak pekerjaan yang diselesaikan, sebanyak itu pula kemampuan yang diperoleh.
  • Kalau kita melihat, mendengar, dan bekerja dengan sepenuh hati, hidup kita akan penuh manfaat.
  • Orang yang memanfaatkan waktu dengan baik, waktunya berharga seperti intan berlian. Orang yang tidak menggunakan waktu dengan baik, waktunya tidak berharga seperti lumpur.
  • Setiap kebajikan yang ditanam di masa kini, akan menjadi buah kebaikan yang kita petik di hari esok.
  • Barang siapa yang memakan nasi, dia yang merasa kenyang. Barang siapa yang mengerjakan, dia yang mendapat manfaat.
  • Semakin giat bekerja, semakin banyak berkat yang diperoleh. Semakin sedikit bekerja, semakin banyak kesempatan yang hilang. Orang malas adalah orang yang paling miskin.
  • Jika hati tidak mantap, dan pikiran tidak berkonsentrasi, kesuksesan tidak akan diraih.
  • Orang yang punya sepasang tangan yang sehat, tapi tidak melakukan apa-apa, sama dengan orang yang tidak mempunyai tangan.

Tuesday, February 21, 2012

Mari Berbakti

Sepuluh kebaikan seorang ibu bagi anaknya

  1. Kebaikan dalam memberikan perlindungan selama sang anak berada di dalam kandungannya.
  2. Kebaikan dalam menanggung pernderitaan selama kehamilan.
  3. Kebaikan dalam melupakan semua penderitaan ketika sang anak telah dilahirkan.
  4. Kebaikan karena memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan bagian yang manis bagi anaknya.
  5. Kebaikan karena memindahkan anaknya ke tempat yang kering dan membiarkan dirinya sendiri di tempat yang basah.
  6. Kebaikan karena menyusui, memberikan makanan, dan membesarkan anaknya.
  7. Kebaikan karena membersihkan anaknya.
  8. Kebaikan karena selalu memikirkan keselamatan anaknya.
  9. Kebaikan karena kasih sayang dan pengabdiannya kepada anaknya.
  10. Kebaikan karena rasa iba dan simpati yang dalam kepada anaknya.

Kebaikan dan kebajikan orang tua sungguh luas dan tidak terbatas. Jika seseorang berbuat kesalahan dengan tidak berbakti, maka alangkah sulitnya membayar kembali kebaikan itu. Ingatlah selalu hal ini sepanjang hidup kita dengan pertama-tama menjadi orang yang berbakti kepada orangtua. Jika kita mampu hidup dengan sikap yang baik dan benar kepada orang tua kita, maka niscaya keharmonisan kehidupan kita di lingkungan yang lebih luas akan ditopang oleh fondasi yang kokoh.
Menabur kebaikan akan menuai kebahagiaan.