WISH FEMI HERBS

WISH FEMI HERBS

Kategori

Anak dan Orangtua (13) Cerita cinta (10) Cerita inspiratif (44) Kutipan inspiratif (7) moral (40) Sikap (45) Tips (8) Video (2)
Showing posts with label Cerita cinta. Show all posts
Showing posts with label Cerita cinta. Show all posts

Saturday, December 22, 2012

Dia, yang Dihargai oleh Anak-anaknya, dan Dipuji oleh Suaminya



Seorang anak mendapati ibunya sedang sibuk di dapur, lalu menuliskan sesuatu di selembar kertas.
Ibunya mengambil kertas tersebut, kemudian membacanya.

Tagihan upah membantu Ibu :
- Membantu ke warung 20,000
- Menjaga adik 20,000
- Membuang sampah 5,000
- Membereskan tempat tidur 10,000
- Menyiram bunga 15,000
- Menyapu lantai 15,000
  Jumlah seluruhnya : 85,000

Selesai membaca, Ibu tersenyum, mengambil pena dan menulis di belakang kertas yang sama :

- Mengandung selama 9 bulan. 
                 GRATIS
- Jaga malam karena menjaga mu
                 GRATIS
- Airmata yg menetes karena mu.
                 GRATIS
- Kuatir memikirkan keadaan mu
                 GRATIS
- Menyediakan makan, minum, pakaian, dan keperluan mu.
                 GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasih ku.
                 GRATIS

Air mata anak berlinang, lalu dia memeluk ibunya dan berkata :
 "Aku Sayang Ibu".
Lalu dia mengambil pena dan menulis di kertas itu: "LUNAS"

Sayangilah dan tunjukkanlah sayang mu kepada ibu kita selama ia masih ada, karena akan ada saatnya ibu kita tidak akan ada lagi.

Selamat Hari Ibu!



>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya
>>> Info gadget-gadget keren
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Thursday, March 22, 2012

Jodoh

Dalam perjalanan pulang, aku menemukan sebuah dompet di jalan. Di dalamnya hanya berisi uang tiga dolar dan sebuah amplop surat yang sudah usang. Tertulis sebuah alamat di surat itu. Aku membuka amplopnya, siapa tahu ada informasi tentang pemiliknya.

Aku membaca surat itu. Tertanggal tahun 1924, ternyata surat yang sudah sangat tua. Tulisannya indah, sepertinya tulisan tangan seorang perempuan. Ditujukan kepada seseorang bernama "John", dan menceritakan bahwa si penulis surat tidak dapat menemui John lagi karena orang tuanya melarangnya. Namun demikian, tertulis di sana bahwa ia akan selalu mencintai John-nya.

Tertanda, Jane.

Surat yang indah, tapi akan sulit mencari tahu siapa pemiliknya hanya berbekal sedikit informasi seperti ini. Aku pikir mungkin bisa dimulai dengan menanyakan nomer telefon untuk alamat yang tercantum di amplopnya.

"Halo, operator," aku menelefon layanan informasi, "ini agak tidak biasa. Saya sedang mencari pemilik sebuah dompet yang saya temukan di jalan. Di dalam dompet itu saya menemukan sebuah surat dengan alamat yang tercantum pada amplopnya, apakah ada nomer telefon yang terdaftar untuk alamat itu.


Dia menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang kedengarannya sedikit ragu sesaat, lalumenjawab, "Ya, memang ada nomer telefon untuk alamat itu, tetapi kami tidak bisa memberikannya kepada Bapak." Lalu ia melanjutkan, sebagai gantinya, dia yang menghubungi nomer itu sekarang, menjelaskan sesuai ceritaku tadi, dan meminta mereka untuk menghubungiku.


Aku menunggu beberapa saat, lalu ia kembali, katanya, "Ada yang ingin berbicara dengan Bapak."

Suara di ujung sana seorang perempuan, aku segera bertanya apakah ia mengenal seseorang bernama Jane. Ia terkejut, "Oh! Kami membeli rumah ini dari sebuah keluarga yang putrinya bernama Jane. Tapi itu sudah 30 tahun yang lalu!"

"Apakah Ibu tahu keberadaan keluarga itu sekarang?" Aku bertanya.

"Aku ingat Jane sempat menitipkan ibunya di rumah jompo beberapa tahun lalu," katanya. "Kalau Bapak bisa menghubungi mereka, mungkin mereka dapat membantu Bapak mencari di mana keberadaan Jane sekarang."
Ia memberitahukan nama rumah jompo itu, dan aku segera menghubunginya. Kata mereka, wanita tua itu sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Tapi mereka punya nomer telefon tempat yang mereka pikir putri wanita itu tinggal sekarang.

Aku berterimakasih kepadanya, dan melanjutkan menelefon nomer yang barusan kucatat. Perempuan yang menjawab telefon menjelaskan bahwa Jane sendiri sekarang tinggal di rumah jompo.
Aku mulai berpikir rasanya semua ini begitu konyol. Buat apa juga dari tadi aku disibukkan oleh dompet yang hanya berisi uang tiga dolar dan surat yang sudah hampir berusia 60 tahun?


Tapi aku tetap menelefon lagi. Kali ini ke rumah jompo tempat di mana Jane seharusnya tinggal. Lalu orang yang menjawab telefon memberitahukan kepadaku, "Ya, Jane tinggal bersama kami."

Meskipun sudah pukul sepuluh malam, aku tetap minta diperbolehkan untuk mampir dan bertemu dengan perempuan bernama Jane ini. "Emmm...," dengan ragu, "kalau Bapak mau mencoba, ia tinggal di Blok 3, mungkin masih di ruang utama menonton televisi."

Aku berterimakasih kepadanya, lalu segera berangkat menuju rumah jompo itu. Petugas di sana menyambutku, lalu kami berjalan ke Blok 3. Di ruang utama, ia memperkenalkan aku kepada Jane.

Rambutnya sudah putih semua, ia seorang nenek yang manis, yang tersenyum dengan hangat dan matanya masih penuh semangat. Aku menceritakan pengalamanku menemukan dompet, dan menunjukkan surat itu kepadanya. Begitu ia melihat amplop biru muda dengan gambar bunga kecil di sisi kirinya, ia menarik nafas panjang dan berkata, "Nak, surat ini adalah terakhir kali aku berhubungan dengan John."

Pandangannya menerawang beberapa saat, lalu melanjutkan, "Aku amat mencintainya. Tetapi saat itu aku baru berumur enam belas,  dan ibuku menganggapku masih terlalu kecil. Oh, ia begitu tampan, mirip Sean Connery, sang bintang film."

"Ya," ia melanjutkan. "John Doe lelaki yang luar biasa. Kalau Kamu bertemu dengannya, tolong katakan kepadanya aku masih sering memikirkannya. "Dan," ia ragu sebentar, hampir menggigit bibirnya, "katakan kepadanya aku masih mencintainya.... Tahukah Nak," katanya sambil tersenyum dan air matanya mulai berkumpul membasahi matanya. "aku tidak pernah menikah. Menurutku tak ada satu pun yang sebanding dengan John..."

Aku berterimakasih kepada Jane dan pamit. Sambil berjalan ke luar, petugas di sana bertanya, "Bagaimana, apakah ada hasilnya?"

"Setidaknya aku mendapatkan nama belakangnya. Tapi rasanya saya akan membiarkannya dulu saja. Saya sudah menghabiskan waktu seharian untuk mencari pemilik dompet ini." Jawabku sambil mengeuarkan dompet itu dari saku.


Penjaga itu melihat sesaat dompet kulit dengan sedikit aksen merah di bagian pinggir di tanganku, kemudian ia berseru, "Hei, tunggu, itu dompet Mr. Doe! Saya tahu pasti, aksen merah itu. Ia selalu kehilangan dompetnya, saya sendiri sudah tiga kali menemukan dompet itu di sini."

"Siapa itu Mr. Doe?" Aku bertanya dengan bersemangat.

"Dia penghuni di sini, di Blok 8. Itu pasti dompet Mr. John Doe. Ia pasti menjatuhkannya lagi waktu bepergian." Aku berterimakasih kepadanya lalu segera berlari kembali ke kantor perawat. Aku menceritakan kepadanya apa yang di katakan petugas di luar tadi. Lalu kami sudah berjalan kembali menuju Blok 8, sambil berharap Mr. John Doe benar sedang berada di sana.

Sesampainya di Blok 8, perawat di sana berkata, "Kurasa ia masih berada di ruang utama. Beliau senang membaca di malam hari. Ia orang tua yang menyenangkan."

Kami berjalan menuju satu-satunya ruangan yang masih terang, ada seseorang sedang membaca buku. Perawat menghampirinya dan menanyakan apakah ia kehilangan dompetnya. Mr. Doe tampak terkejut, meraba sakunya, dan berkata, "Oh, dompet saya hilang!"


"Bapak yang baik hati ini menemukan sebuah dompet dan kami pikir mungkin dompet ini milik Bapak."


Aku menyerahkan dompet itu ke tangan Mr. Doe dan segera saja ia tersenyum lega dan berkata, "Ya, benar ini! Pasti terjatuh tadi siang. Saya ingin memberikan sedikit tanda terima kasih."


"Tidak perlu Pak..., terima kasih..." jawabku sopan. "Tetapi saya harus memberitahu sesuatu. Saya membaca surat di dalamnya untuk mencari petunjuk siapa pemilik dompet itu.


Senyum di wajahnya mendadak hilang. "Kau membaca surat itu?"

"Bukan itu saja, bahkan mungkin saya tahu di mana Jane berada."
Wajahnya segera pucat. "Jane? Kau tahu di mana dia? Bagaimana keadaannya? Apakah ia tetap cantik seperti dulu? Tolong, tolong beritahu saya," ia memohon.

Ia baik-baik saja... tetap cantik sebagaimana Bapak mengenalnya dulu." Aku menjawab dengan lembut.

Orang tua itu tersenyum dan segera bertanya, "Bisakah Kau beritahu di mana dia? Saya ingin menelefonnya besok." Ia mencengkeram lenganku dan melanjutkan, "Tahukah Nak, saya begitu jatuh cinta kepadanya, sampai waktu saya menerima surat itu, hidup ini bisa dikatakan sudah berakhir. Saya tidak pernah menikah, dan saya rasa saya selalu hanya mencintainya.

"Mr. Doe," kataku, "ayo ikut saya."

Kami berjalan menuju Blok 3. Ruangan-ruangan di sana sudah gelap, hanya beberapa lampu kecil yang menerangi koridor menuju ruang utama tempat Jane tadi menonton televisi sendirian.

Perawat mendekatinya. "Jane," katanya dengan lembut, sambil menunjuk ke arah John, yang sedang menunggu denganku di dekat pintu ruangan. "Kau kenal orang ini?"

Ia mengatur posisi kacamatanya sebentar, melihat sesaat, tapi tidak berkata apa pun. John berkata dengan lembut, hampir berbisik, "Jane, ini John. Kau ingat aku?"

"Ia terperanjat, "John! Yang benar, John? Kau kah itu, John ku!" John berjalan perlahan ke arahnya, dan mereka berpelukan. Aku dan si perawat meninggalkan mereka berdua, dengan air mata di wajah kami.

Kira-kira tiga minggu kemudian aku mendapat telefon di kantorku dari rumah jompo. "Bisakah Kau meluangkan waktu di hari minggu untuk menghadiri acara pernikahan? John dan Jane akan menikah!"

Acara pernikahan itu sangat indah, dengan semua orang yang berada di rumah jompo berpakaian pesta. Jane cantik dengan gaun pengantinnya, John gagah dengan tuxedo-nya. Mereka menjadikan aku sebagai pendamping pengantin pria.

Rumah jompo itu memberikan kamar tersendiri bagi mereka berdua. Kalau kamu ingin menyaksikan seorang pengantin wanita berusia 76 tahun bersama pengantin prianya yang berusia 79 tahun, bertingkah layaknya sepasang remaja kasmaran, maka lihatlah pasangan yang satu ini.

"Lihat kan," kataku. "Lihat kan Tuhan Yang Maha Kasih bekerja! Kalau memang berjodoh, maka pastilah terjadi."


>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya

Friday, March 16, 2012

Siapa yang Kau Cintai?

John berdiri dari bangkunya, merapikan seragam militer yang dikenakannya, dan dengan seksama mengamati orang-orang yang lalu lalang di stasiun utama New York. Ia mencari seorang wanita, yang ia kenal hatinya, tapi tidak wajahnya. Seorang wanita dengan bunga mawar di pakaiannya.

Ketertarikannya kepada wanita ini dimulai sekitar satu tahun lalu, di sebuah perpustakaan di Florida. Sebuah buku yang dia baca di perpustakaan itu membuatnya penasaran. Bukan karena isinya, melainkan sebuah catatan kecil di halaman buku itu. Tulisan tangan yang lembut dan amat mengesankan, mencerminkan wawasan yang amat dalam dan pribadi yang bijaksana dari si penulisnya. Pada halaman depan buku, tertulis nama pemilik buku itu sebelumnya, seorang wanita. Dengan sedikit waktu dan usaha, akhirnya John berhasil memperoleh alamatnya. Wanita itu tinggal di New York.. John menulis surat, yang memperkenalkan dirinya, dan menjelaskan ketertarikannya untuk menjadi sahabat pena, kepada wanita misterius itu. Beberapa hari kemudian, John ditugaskan ke Eropa untuk dinas militer di Perang Dunia ke-2.
Selama sekitar satu tahun itu, hubungan mereka berkembang, saling mengenal, melalui surat. Setiap surat bagaikan benih yang bersemi di hati yang subur. Sekali John meminta fotonya, tapi ia menolak. Menurutnya jika john sungguh menyukainya, rupa bukanlah hal penting.

Ketika tiba hari kepulangan John dari Eropa, mereka berdua sepakat untuk mengatur jadwal untuk pertemuan pertama mereka, pukul 7 malam di stasiun utama New York. "Kau pasti akan mengenaliku," tulisnya. "Aku akan memasang bunga mawar di kerah mantelku."

Demikianlah John sedang berada si stasiun, mencari seorang wanita, yang hatinya ia cintai, tapi wajahnya tidak ia kenali.

Sekarang, mari kita biarkan John sendiri yang menceritakan apa yang terjadi selanjutnya:

Seorang wanita muda berjalan menghampiriku, perawakannya tinggi langsing. Rambutnya pirang terurai, matanya biru seperti bunga-bunga, bentuk bibir dan dagunya sangat indah. Dengan mantel hijaunya, ia tampak seperti datangnya musim semi, dalam wujud manusia.
Segera aku pun mulai menghampirinya, sosoknya membuatku lupa bahwa ia tidak memakai bunga mawar di mantelnya. Ia melewatiku begitu saja, dan saat itu juga aku melihat seorang wanita lain, yang berdiri tak jauh dari tempat yang sama dengan gadis bermantel hijau yang barusan berjalan melewatiku, dengan mawar tersemat di dekat kerah mantelnya.
Wanita itu mungkin sudah berusia sekitar 50an tahun, wajahnya bulat, rambutnya sudah mulai memutih. Sementara gadis bermantel hijau tadi sudah berlalu. Sepertinya diriku ingin terbelah dua, ingin sekali aku mengikuti gadis cantik tadi, tapi aku juga sudah begitu lama menunggu untuk bertemu dengan wanita ini, yang semangatnya telah sungguh-sungguh menemaniku selama ini. Mungkin yang satu ini lebih bermakna daripada sekadar jatuh cinta. Sebuah ikatan persahabatan yang luar biasa istimewa untukku.
Dan di sanalah ia berdiri. Wajahnya yang bulat sangat lembut dan ramah, dan sorot matanya begitu hangat. Tanpa ragu lagi, aku menghampirinya, aku meraih buku yang bersampul biru dari dalam saku, menegakkan badanku, dan menyodorkan buku itu kepada wanita tua di hadapanku (meskipun ketika aku mulai berbicara, aku masih merasa tersedak oleh kekecewaanku). Aku menyapanya, memperkenalkan diriku, dan melanjutkan, "Senang sekali akhirnya kita bisa bertemu. Bolehkah aku mengajakmu makan malam?"
Wajah wanita itu semakin lebar ketika ia tersenyum. "Aku tak tahu apa maksud semua ini, nak," jawabnya. "Tetapi wanita muda berbaju hijau yang barusan lewat tadi memohon kepadaku untuk memakai mawar ini di bajuku. Dan katanya kalau kamu mengajakku keluar makan malam, aku harus mengatakan kepadamu bahwa dia menunggumu di restoran di seberang jalan sana." Ia menunjuk ke arah jalanan. "Katanya ini hanya semacam ujian saja."

Tidaklah sulit untuk memahami maksud si gadis bermantel hijau. Memang, maksud hati yang sesungguhnya baru akan tampak jelas kalau mata sudah menyimpulkan sesuatu itu tidak menarik.

Houssaye, sang novelis besar menulis, "Tell me whom you love, and I will tell you who you are."


Tuesday, March 13, 2012

Kau Begitu Sempurna

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acara pernikahannya sungguh mewah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Sebuah acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita".

Kemudian, kita akan membahas bagaimana mengubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia..." Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal yang tidak mereka sukai dari pasangannya dan berjanji tidak akan tersinggung, demi kebaikan mereka bersama.

Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya.

Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir….. "Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya. "Oh tidak, lanjutkan… " jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia "Sekarang gantian ya, kau yang membacakan daftarmu".

Halaman kosong, ya, tidak ada satu huruf pun di kertas suaminya.

Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat apa-apa di kertasku. Aku pikir kau sudah sempurna, dan aku tidak ingin mengubahmu. Kau adalah dirimu sendiri. Kau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang... "

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya...

Ia menunduk dan menangis...

Sunday, March 11, 2012

Kopi Asin

John bertemu gadis itu di sebuah pesta. Jane, begitu luar biasa, banyak orang yang mendekatinya, sementara John sangat biasa saja, tidak ada yang meliriknya. Pada akhir pesta, John mengundang Jane untuk minum kopi bersamanya, Jane terkejut, namun karena ingin bersikap sopan, Jane pun menyetujuinya.

Mereka duduk di warung kopi yang cukup bagus. John terlalu gugup untuk memulai percakapan, Jane juga merasa tidak nyaman. "Tolong, biarkan aku pulang" Jane mengeluh di dalam hati.... Tiba-tiba John memanggil  pelayan. "Tolong beri saya garam, saya ingin memasukkannya ke dalam kopi saya." Orang-orang menatapnya, aneh! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.

Penasaran, Jane bertanya, "mengapa Kamu minum kopi pakai garam?" John menjawab, "ketika aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku suka bermain di laut, aku bisa merasakan rasa air laut, seperti rasa kopi yang asin ini. Sekarang setiap kali saya minum kopi yang asin, aku selalu teringat masa kecilku. Ingat kampung halaman, aku amat merindukan kampung halamanku, dan kedua orang tuaku yang masih tinggal di sana." Sambil bercerita, air matanya mulai membasahi matanya. Jane sangat tersentuh. Itulah perasaan lelaki ini yang sebenarnya, dari lubuk hatinya. Seorang lelaki yang bisa menceritakan kerinduan hatinya, ia pasti orang yang mencintai, peduli, dan memiliki tanggung jawab akan rumahnya. Kemudian Jane juga mulai berbicara, bercerita tentang kampung halamannya yang jauh di sana. Juga tentang masa kecilnya, keluarganya. Dari situ perbincangan yang hangat mulai mengalir, yang menjadi awal yang indah dari kisah mereka.

Mereka pun mulai berkencan. Menurut Jane, sebenarnya John adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala yang didambakannya. Dia punya toleransi, baik hati, hangat, berhati-hati. John orang yang baik, dan hampir saja Jane mengabaikannya! Tapi untung ada kopi asin! Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran, kemudian mereka menjalani kehidupan yang bahagia... Dan setiap kali Jane membuatkan kopi untuk suaminya, ia membubuhkan garam ke dalam kopi, karena ia tahu yang digemari suaminya.

Empat puluh tahun berlalu, John meninggal dunia, meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan: "Sayangku, maafkan aku, maafkan kebohongan sepanjang hidupku, ini adalah sebuah kebohongan yang aku katakan padamu --- tentang kopi asin. ingat kencan pertama kita? Waktu itu aku sangat gugup, sebenarnya aku ingin minta gula, tapi malah bilang garam Sulit bagiku untuk meralatnya, jadi aku teruskan saja. Aku tak pernah berpikir bahwa itu bisa menjadi awal komunikasi kita! Berkali-kali aku mencoba untuk memberitahu Kamu yang sebenarnya, tapi aku terlalu takut melakukannya, dan aku berjanji untuk tidak berbohong kepadamu dalam hal apapun... Sekarang aku sekarat, aku sudah tidak takut apapun, jadi akan kukatakan yang sebenarnya: Aku tidak suka kopi asin, rasanya sungguh aneh dan tak enak... Tapi aku minum kopi asin buatanmu seumur hidupku. Sejak aku mengenalmu, aku tidak pernah menyesali semua yang aku lakukan untukmu. Memilikimu dalam hidupku adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Kalau aku boleh hidup untuk kedua kalinya, aku masih menginginkan kamu, meskipun aku harus minum kopi asin lagi. Air matanya membuat surat itu benar-benar basah kuyup.

Aku Mencintaimu, Sayang

Sepasang suami istri yang sudah sebelas tahun menikah, akhirnya dikaruniai seorang bayi laki-laki. Begitu berbahagianya pasangan itu, dan anak itu menjadi segala-galanya bagi mereka.

Suatu hari, sebelum berangkat bekerja, sang suami melihat sebuah botol obat yang tutupnya terbuka di atas meja. Karena sudah agak terlambat, ia meminta istrinya untuk menutup botol itu dan menyimpannya di lemari. Istrinya sedang sibuk di dapur, karena itu ia lupa pesan suaminya.

Anak emas mereka yang kini baru berusia tiga tahun melihat botol itu. Senang karena warna-warni obat di dalamnya, ia menelan obat itu semua sekaligus. Obat itu adalah obat keras, hanya untuk orang dewasa dan dalam dosis kecil.

Ketika anak itu jatuh tak sadarkan diri, ibunya panik dan segera melarikan anaknya ke rumah sakit, tempat bocah malang kemudian itu meninggal... Ia amat sedih dan hancur karena kelalaiannya, melupakan pesan suaminya, kini ia harus kehilangan anak yang begitu ia kasihi. Ia tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi suaminya.

Ketika suaminya datang ke rumah sakit dengan perasaan tidak menentu, karena mendapati anak kesayangannya telah tiada, ia menatap istrinya, dan hanya mengucapkan tiga patah kata...

"aku mencintaimu, sayang."
 

Sikap suami ini, yang sama sekali tidak terduga adalah sikap yang sangat luhur dan bijaksana. Anak kesayangannya sudah meninggal, tak akan pernah bisa hidup kembali bersama mereka. Tak ada gunanya mencari-cari kesalahan istrinya. Lagi pula, kalau saja ia meluangkan sedikit waktu untuk menyimpan botol itu sendiri, meskipun ia sudah terlambat bekerja, kejadian ini tidak akan menimpa mereka. Tidak ada yang harus disalahkan. Istrinya juga sama telah kehilangan anak kesayangannya. Yang dibutuhkannya pada saat itu adalah penghiburan dan simpati dari suaminya, dan suaminya memberikan itu semua dengan bersikap bijaksana. Jika setiap orang dapat memandang hidup dengan perspektif seperti ini, akan jauh lebih sedikit masalah yang ada di dunia. Singkirkanlah semua rasa iri, cemburu, tak kenal ampun, egoisme, dan ketakutan. Dan kita akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidaklah sesulit yang kita pikirkan.
 
"Hidup berpasangan memerlukan jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama."


>>> Info gadget-gadget keren 
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Friday, March 9, 2012

Boy and Girl

Boy dan Girl sedang berkendara di sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Girl: Pelankan, aku takut.
Boy: Tidak, ini mengasyikkan.
Girl: Tidak, tolong, ini mengerikan!
Boy: Kalau begitu, katakan padaku kau mencintaiku.
Girl: Baik, aku mencintaimu. Sekarang kurangi kecepatan!
Boy: Sekarang peluk aku erat-erat.
Girl memeluk boy lebih erat...
Boy: Ambil helmku dan pakailah.

Di koran hari berikutnya,diberitakan sebuah sepeda motor menabrak sebuah bangunan karena kerusakan rem. Dua orang di sepeda motor, tetapi hanya satu yang selamat.

Yang sebenarnya adalah bahwa di tengah jalan, Boy menyadari bahwa remnya rusak, tetapi ia tidak ingin Girl tahu. Sebaliknya, ia ingin mendengar Girl mengatakan ia mencintainya, dan merasakan pelukannya untuk terakhir kalinya, dan Boy ingin Girl memakai helmnya, supaya Girl akan tetap hidup meskipun berarti dia akan mati.

Wednesday, March 7, 2012

The Way She Loved Him

Ada seorang lelaki yang sangat mencintai kekasihnya. Pria romantis ini membuat 1000 buah burung dari kertas untuk diberikan kepada kekasihnya. Dia bekerja di sebuah perusahaan. Posisinya tidak terlalu penting dan tampaknya masa depannya pun akan biasa-biasa saja, tetapi mereka amat bahagia.

Suatu hari, kekasihnya mengatakan kepadanya kalau ia harus pergi ke Paris dan tidak akan kembali lagi. Kekasihnya ingin mengakhiri hubungan mereka karena tidak yakin hubungan mereka akan berhasil. Dengan sedih dan berat hati, ia pun setuju. Tapi ia tidak larut dalam kesedihan, ia tetap giat bekerja siang malam. Beberapa tahun berlalu, berkat kerja keras dan bantuan sahabat-sahabatnya, ia berhasil mendirikan perusahaannya sendiri.

Ia sedang mengemudikan kendaraannya. Di luar hujan turun dengan lebatnya, dan perhatiannya tertuju kepada sepasang suami istri dengan payung mereka, sedang berjalan menembus hujan. Meskipun memakai payung, mereka tetap kebasahan. Segera ia mengenali mereka, mereka adalah orang tua kekasihnya dulu. Ia memelankan laju kendaraannya, mengikuti mereka. Ia ingin agar mereka juga tahu bahwa sekarang keadaannya sudah berubah, ia sudah memiliki perusahaan, mobil, dan sebagainya.
Ternyata orang tua kekasihnya sedang berjalan menuju ke pemakaman, ia mengikuti mereka... lalu ia melihat kekasihnya itu, tersenyum manis di sebuah foto yang dipajang di sebuah batu nisan... Burung-burung kertas pemberiannya juga ada di foto, di sisi kekasihnya.

Orangtua kekasihnya melihatnya, kemudian ia pun bertanya kepada mereka, mengapa ini bisa terjadi. Mereka menjelaskan kepadanya, sebenarnya kekasihnya tidak pernah ke Paris, tapi dia menderita sakit kanker. Ia yakin bahwa suatu hari orang yang dicintainya pasti bisa berhasil dalam kehidupannya, dan oleh sebab itu, ia tidak ingin menjadi beban bagi orang yang dicintainya. Ia memilih untuk meninggalkannya.

Lelaki itu menangis, di makam kekasihnya...

Saturday, March 3, 2012

Cinta Sejati, Cinta yang Kuat

Seorang pemuda sedang jatuh cinta, tetapi karena ia berasal dari keluarga yang miskin, orang tua si gadis tidak begitu senang dengannya. Si pemuda berusaha keras untuk terus melakukan pendekatan, hingga pada waktunya, orang tua si gadis melihat bahwa pemuda ini anak yang baik, dan pantas untuk pendamping putrinya.

Ada sedikit masalah, pemuda ini seorang tentara, dan tidak lama kemudian pecah perang dan ia ditugaskan ke luar negeri selama setahun. Seminggu sebelum berangkat, pemuda ini berlutut di hadapan gadis pujaannya
dan bertanya, "Maukah kamu menikahiku?" Si gadis megusap air matanya, menjawab ya, dan mereka pun bertunangan. Mereka sepakat, jika perang usai nanti, mereka akan segera menikah.

Tetapi tragedi itu terjadi. Beberapa hari setelah keberangkatan kekasihnya, gadis itu mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah. Sebuah tabrakan langsung. Ketika ia terbangun di rumah sakit, ia melihat papa mamanya sedang menangis. Segera ia tahu ada sesuatu yang salah.

Belakangan ia tahu bahwa dirinya mengalami kerusakan otak. Bagian otaknya yang mengendalikan otot-otot wajahnya cedera. Ia kini kehilangan wajah cantiknya. Ia menangis melihat wajahnya di cermin. "Kemarin aku begitu cantik. Hari ini aku menjadi monster." Begitu banyak luka-luka yang semakin memperburuk seluruh tubuhnya. Saat itu juga kemudian ia memutuskan untuk melepas tunangannya dari kesepakatan mereka. Ia tahu kekasihnya tidak akan menginginkannya lagi. Ia akan mencoba untuk melupakannya dan tidak akan menemuinya lagi.

Selama setahun, tentara itu menulis begitu banyak surat, tidak satu pun dibalas. Ia telefon berkali-kali, juga tidak ada jawaban. Satu tahun sudah berlalu. Suatu hari, mama si gadis masuk ke kamar putrinya, "dia sudah kembali dari perang."
Gadis itu terkejut, "Tidak! Tolong jangan beritahu dia tentang aku. Jangan beritahu aku di sini!"
Ibunya berkata, "Dia akan segera menikah," kemudian menyodorkan sebuah kartu undangan kepada putrinya.
Hati gadis itu semakin menciut. Ia masih mencintai pemuda itu, tapi kini ia benar-benar harus melupakannya.
Dengan amat sedih, ia membuka undangan itu.
Lalu ia melihat namanya lah yang tertulis di sana!
Masih bingung dan linglung, ia bertanya, "Apa ini?"
Tepat pada saat itulah pemuda itu masuk ke kamarnya dengan buket bunga di tangannya. Ia berlutut di sisi tempat tidur dan bertanya, "Maukah kamu menikahiku?"
Gadis itu menutupi wajahnya dengan tangannya, "Aku jelek!"
Pemuda itu menjawab, "Tanpa seijin kamu, mamamu mengirimkan foto-fotomu. Ketika aku melihat foto-foto itu, aku sadar bahwa tidak ada yang berubah. Kamu tetap orang yang aku cintai. Kamu masih tetap secantik sebelumnya, karena aku mencintaimu."

Cinta sejati, melihat jauh lebih jelas daripada mata.

Friday, March 2, 2012

Wujud Cinta

Tiga tahun pacaran dan kini sudah menjelang dua tahun usia perkawinan, harus kuakui aku mulai lelah dengan semua ini. Semua yang dulunya menjadi alasanku mencintainya, kini telah berubah menjadi penyebab kegelisahanku. Aku termasuk orang yang amat sensitif dalam hal perasaan dan membina hubungan. Aku mendambakan saat-saat romantis, layaknya anak kecil mendambakan permen. Sebaliknya, suamiku sangat kurang sensitif, menurutku. Ia bukan orang yang bisa menghadirkan momen-momen romantis, dan itu membuatku patah semangat.

Suatu hari, akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengannya. Aku minta cerai.
"Kenapa?" Ia bertanya, terkejut. "Aku lelah, semua sudah hambar dan aku sudah kehilangan tujuan dari perkawinan kita!" Jawabku. Ia berdiam diri semalaman, sepertinya berpikir keras ditemani rokoknya. Rasa kecewaku semakin bertambah, inilah lelaki yang bahkan kesulitan mengekspresikan keadaan sulitnya,, apa lagi yang bisa diharapkan darinya? Benar yang orang katakan bahwa sulit untuk mengubah kepribadian seseorang, dan kurasa aku sudah mulai kehilangan keyakinan terhadap dirinya.

Dan akhirnya ia bertanya kepadaku, "apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu berubah pikiran?" Kutatap matanya sambil menjawab perlahan, "begini pertanyaannya, kalau kamu bisa jawab dan meyakinkan hatiku, aku akan berubah pikiran. Katakanlah, aku menginginkan bunga yang tumbuhnya di tebing sebuah gunung, dan kita berdua yakin jika memetik bunga itu kamu bisa mati, apa kamu tetap akan ambilkan bunga itu untukku?" Ia menjawab "akan kuberi jawabannya besok..." Mendengar responsnya, harapan-harapanku tenggelam seketika.

Aku bangun keesokan paginya dan ia sudah tidak ada di rumah, dan ada secarik kertas dengan tulisan tangannya, di atas meja makan. Isinya: "sayang... Aku aku tidak akan memetik bunga itu untukmu, tapi biarkan aku menjelaskan alasannya." Baris pertama ini saja sudah cukup menghancurkan hatiku. Aku teruskan membaca lanjutannya.
"Kalau kamu memakai komputer, kamu selalu bikin kacau program-programnya, dan kamu merengek di depan layar, dan aku harus menyisihkan jari-jariku untuk membereskannya. Kamu selalu meninggalkan kunci rumah kalau kamu pergi, jadi aku harus menyisihkan kakiku untuk buru-buru pulang dan membukakan pintu untukmu. Kamu suka pesiar dan selalu tersesat di kota yang baru, dan aku harus menyisihkan mataku untuk menunjukkan jalan. Kamu selalu kram kalau "tamu" bulananmu datang, aku harus menyisihkan telapak tanganku supaya aku bisa meredakan kram di perutmu.
Kamu suka berdiam di rumah, dan aku kuatir kamu bisa jadi kuper. Aku harus menyisihkan mulutku untuk cerita-cerita supaya kamu tidak bosan. Kamu sering menatap layar komputer, itu tidak baik untuk matamu, aku harus menyisihkan mataku supaya kalau kita sudah tua nanti, aku bisa memotong kukumu, dan mecabuti rambut uban. Jadi aku juga bisa menggandeng tanganmu saat berjalan menyusuri pantai, selagi kamu menikmati sinar matahari dan pasir yang indah... dan mengatakan kepadamu warna bunga-bunga, persis seperti warna yang terpancar dari wajahmu... Oleh karena itu sayangku, terkecuali aku yakin ada orang lain yang mencintaimu lebih besar daripada aku... aku belum bisa memetik bunga itu, dan mati."

Air mataku membasahi surat itu, dan melunturkan tulisannya... dan aku terus membaca.. "Sekarang, karena kamu sudah selesai membaca jawabanku, kalau kamu puas, tolong buka pintu depan, karena aku sedang berdiri di luar membawakan roti kesukaanmu dan susu." Aku bergegas membuka pintu, dan melihat wajahnya yg risau, dan di tangannya menenteng roti dan sebotol susu.
Kini aku sangat yakin tidak ada orang yang bisa mencintaiku seperti dia, dan aku sudah melupakan soal bunga itu.

Cinta hadir dalam wujud apa pun. Bunga-bunga dan hal-hal romantis, digunakan dan tampak hanya di kulit suatu hubungan. Di balik semua itu ada pilar cinta yang sesungguhnya.
Bukan kata-kata, tapi cinta yang memenangkannya.


>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya
>>> Info gadget-gadget keren
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu