WISH FEMI HERBS

WISH FEMI HERBS

Saturday, March 3, 2012

Sepatu Pak Tua

Suatu hari, seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke dalam bus, sebelah sepatunya terlepas dan jatuh di jalanan. Lalu pintu bus menutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak sempat lagi memungut sepatunya yang terlepas. Si bapak tua itu kemudian melepas sebelah sepatunya lagi dan malah melemparkannya keluar jendela bus.
Seorang pemuda di dalam bus melihat kejadian itu. Merasa heran ia pun bertanya kepada bapak tua itu, "Maaf pak, tapi kenapa Bapak malah membuang sepatu yang sebelah juga?"
Bapak tua itu tersenyum dan menjawab "Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."

Sepatu yang hanya sebelah tidak akan bermanfaat apa-apa juga baginya. Dengan melepaskan sebelah sepatunya lagi, sepatu itu tidak kehilangan nilainya, dan mungkin menjadi hadiah bagi pemulung yang memungutnya.

Kisah Dua Bibit

Di sebuah ladang yg subur, terdapat 2 buah bibit yg terhampar. Bibit 1 berkata, "Aku ingin tumbuh besar, menjejakkan akarku ke dalam tanah ini, dan aku ingin merasakan hangatnya mentari serta kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku."
Dan bibit itu pun tumbuh dan menjulang tinggi.

Bibit ke 2 bergumam, "Aku takut, jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu apa yg akan kutemui dibawah sana, bukankah disana sangat gelap...? Dan jika tunasku ini tumbuh menjulang tinggi, bukankah nanti keindahan tunasku ini akan hilang? Dan bagaimana jika pada saat tunasku ini terbuka, lalu ada siput" yg mencoba memakannya? Dan pasti jika pada saat aku tumbuh nanti, anak-anak akan mencabutku dari tanah...!!! Tidak..akan lebih baik jika aku menunggu hingga semuanya aman..."
Dan bibit itupun menunggu dan menunggu...
Hingga suatu hari seekor ayam mengais tanah, menemukan bibit yg ke 2 itu, lalu segera memakannya.

Pesan moral :
Kadang dalam kehidupan, kita harus belajar untuk berjalan mulai dari 1, 2, 3... dan seterusnya... Bila kita terlalu banyak berpikir jauh kedepannya, maka akan sangat susah untuk memulai suatu hal, sehingga kita akan lebih memilih untuk diam dan menunggu, sedangkan yg lain sudah mulai berjuang. Tiap orang memiliki kesulitan tersendiri, tetapi bila kita tidak memulainya, maka kita tidak akan bisa belajar... Teori kadang bisa membutakan mata. Belajarlah berjalan, maka kamu akan bisa berlari.....

Katak dan Siput



Ada seekor siput yang selalu memandang sinis terhadap katak. Suatu hari, katak yang kehilangan kesabaran akhirnya bertanya kepada siput:
"Tuan siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?"

Siput menjawab: "Kalian kaum katak mempunyai empat kaki & bisa melompat ke sana ke mari, sedangkan saya mesti membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah, jadi saya merasa sangat iri."

Katak menjawab: "Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami (katak)."

Dan seketika, ada seekor elang besar yg terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukkan badannya ke dalam cangkangnya, sedangkan katak dimangsa oleh elang...

Akhirnya siput baru sadar... ternyata cangkang yang dimilikinya bukan merupakan suatu beban... tetapi adalah kelebihannya...

Nikmatilah kehidupanmu, tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. Keirianhatian kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan...

Rejeki tidak selalu berupa emas, permata atau uang yang banyak, bukan pula saat kita di rumah mewah & pergi bermobil.

Karena bukan kebahagiaan yang menjadikan kita berSYUKUR, tetapi berSYUKURlah yang menjadikan kita berbahagia...

Cinta Sejati, Cinta yang Kuat

Seorang pemuda sedang jatuh cinta, tetapi karena ia berasal dari keluarga yang miskin, orang tua si gadis tidak begitu senang dengannya. Si pemuda berusaha keras untuk terus melakukan pendekatan, hingga pada waktunya, orang tua si gadis melihat bahwa pemuda ini anak yang baik, dan pantas untuk pendamping putrinya.

Ada sedikit masalah, pemuda ini seorang tentara, dan tidak lama kemudian pecah perang dan ia ditugaskan ke luar negeri selama setahun. Seminggu sebelum berangkat, pemuda ini berlutut di hadapan gadis pujaannya
dan bertanya, "Maukah kamu menikahiku?" Si gadis megusap air matanya, menjawab ya, dan mereka pun bertunangan. Mereka sepakat, jika perang usai nanti, mereka akan segera menikah.

Tetapi tragedi itu terjadi. Beberapa hari setelah keberangkatan kekasihnya, gadis itu mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah. Sebuah tabrakan langsung. Ketika ia terbangun di rumah sakit, ia melihat papa mamanya sedang menangis. Segera ia tahu ada sesuatu yang salah.

Belakangan ia tahu bahwa dirinya mengalami kerusakan otak. Bagian otaknya yang mengendalikan otot-otot wajahnya cedera. Ia kini kehilangan wajah cantiknya. Ia menangis melihat wajahnya di cermin. "Kemarin aku begitu cantik. Hari ini aku menjadi monster." Begitu banyak luka-luka yang semakin memperburuk seluruh tubuhnya. Saat itu juga kemudian ia memutuskan untuk melepas tunangannya dari kesepakatan mereka. Ia tahu kekasihnya tidak akan menginginkannya lagi. Ia akan mencoba untuk melupakannya dan tidak akan menemuinya lagi.

Selama setahun, tentara itu menulis begitu banyak surat, tidak satu pun dibalas. Ia telefon berkali-kali, juga tidak ada jawaban. Satu tahun sudah berlalu. Suatu hari, mama si gadis masuk ke kamar putrinya, "dia sudah kembali dari perang."
Gadis itu terkejut, "Tidak! Tolong jangan beritahu dia tentang aku. Jangan beritahu aku di sini!"
Ibunya berkata, "Dia akan segera menikah," kemudian menyodorkan sebuah kartu undangan kepada putrinya.
Hati gadis itu semakin menciut. Ia masih mencintai pemuda itu, tapi kini ia benar-benar harus melupakannya.
Dengan amat sedih, ia membuka undangan itu.
Lalu ia melihat namanya lah yang tertulis di sana!
Masih bingung dan linglung, ia bertanya, "Apa ini?"
Tepat pada saat itulah pemuda itu masuk ke kamarnya dengan buket bunga di tangannya. Ia berlutut di sisi tempat tidur dan bertanya, "Maukah kamu menikahiku?"
Gadis itu menutupi wajahnya dengan tangannya, "Aku jelek!"
Pemuda itu menjawab, "Tanpa seijin kamu, mamamu mengirimkan foto-fotomu. Ketika aku melihat foto-foto itu, aku sadar bahwa tidak ada yang berubah. Kamu tetap orang yang aku cintai. Kamu masih tetap secantik sebelumnya, karena aku mencintaimu."

Cinta sejati, melihat jauh lebih jelas daripada mata.

Friday, March 2, 2012

Betapa Besar Cinta Seorang Ibu

Usianya sudah lebih dari 70 tahun. Berjalan pun tertatih-tatih, sehingga jarang sekali ia mau keluar rumah, rumah jompo. Putrinya tidak menginginkan kehadirannya lagi di rumah. Masih teringat berapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya. Ayah dari putrinya menghilang setelah menghamilinya. Keluarganya menuntut agar ia menggugurkan kandungannya saja karena malu, tetapi ia tetap mempertahankannya. Ia pun diusir dari rumah orang tuanya.

Selain aib yang harus ia tanggung, ia juga harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Tak ada seorang pun yang mendampinginya ketika ia melahirkan putrinya. Walaupun demikian ia tetap merasa sangat bahagia karena Tuhan memberkatinya dengan seorang putri. Ia bertekad mengasihi sepenuh hati putrinya, bahkan menamai putrinya: Kasih.

Siang hari ia harus bekerja di pabrik, malamnya ia menjahit sampai larut malam demi mendapatkan penghasilan tambahan. Hari Sabtu dan Minggu pun ia gunakan untuk bekerja sambilan di sebuah restoran. Semua itu ia alakukan agar ia dapat membiayai kehidupan dan sekolah putrinya. Ia tidak mau menikah lagi, masih berharap suatu saat ayah kandung Kasih kembali ke sisinya.

Karena perjuangan dan pengorbanannya ibunya, Kasih bisa melanjutkan pendidikan  di luar kota. Di sana Kasih jatuh cinta pada seorang pemuda dari keluarga kaya. Kasih tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih punya orang tua. Ia merasa malu ditinggal oleh ayah kandungnya, dan ia merasa malu dengan pekerjaan ibunya. Kepada kekasihnya, ia mengaku bahwa orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat Kasih menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh, ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidak diinginkan. Ia hanya bisa berdoa agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak itu ia tidak mendengar lagi kabar dari putrinya, karena ia dilarang untuk menghubungi putrinya.

Pada suatu hari ia mendengar kabar bahwa Kasih sudah melahirkan seorang bayi lelaki. Sangat bahagia sekali hatinya dan karena ia ingin dekat dengan anak dan cucunya, ia mencoba melamar sebagai pembantu di keluarga putrinya. Ia diterima untuk bekerja di sana. Ia diijinkan menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai nenek, melainkan hanya sebagai pembantu biasa. Ia bersyukur sekali karena Tuhan telah mengabulkan keinginannya. Selama bekerja, ia diperlakukan layaknya pembantu biasa oleh kasih. Bahkan seringkali dibentak dan dimarahi oleh darah dagingnya sendiri. Ia hanya bisa menangis dan berdoa di kamarnya, memohon agar Tuhan memaafkan kesalahan putrinya, agar hukuman atas kesalahan putrinya dilimpahkan saja kepada dirinya. Belakangan ia pun jatuh sakit dan tidak mampu bekerja lagi. Menantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini, sehingga ia memasukkan nenek ini ke rumah jompo untuk menghabiskan sisa hidupnya di sana.

Bertahun-tahun ia tinggal di rumah jompo itu, tidak bisa lagi melihat putri dan cucunya. Dengan usia yang sudah tua dan kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, suatu hari ia merasa bahwa waktunya di dunia ini sudah hampir habis. Hanya ada satu keinginannya sebelum ia meninggal dunia, yaitu ingin bertemu dan melihat putrinya sekali lagi. Selain itu ia pun ingin memberikan seluruh uang simpanan yang telah ia kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya. Cuaca di luar bersalju dan sangat dingin. Ia harus dua kali ganti bus karena jarak dari rumah jompo ke rumah putrinya cukup jauh. Sebuah perjalanan yang tidak mudah untuk seorang nenek sakit-sakitan dalam cuaca seperti ini.

Amat kelelahan dan kedinginan, ia menekan bel di pintu rumah putrinya, dan kebetulan, putrinya sendiri yang membukakan pintu. "Nak, ibu datang untuk memberikan hadiah natal untumu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin untuk terakhir kalinya. Bolehkah ibu masuk sebentar saja karena di luar dingin sekali dan ibu sudah tidak kuat lagi nak." demikian ia memohon kepada putrinya. Dengan nada kesal Kasih menjawab, "maaf, sebentar lagi kami akan kedatangan tamu seorang pejabat tinggi. Lain kali kalau mau datang telefon dulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" Setelah itu pintu langsung ditutup. Kasih malah mengusir ibunya sendiri seperti mengusir pengemis.

Beberapa saat kemudian bel rumah berbunyi lagi, ternyata ada orang yang ingin pinjam telefon. "Maaf bu, mengganggu, tapi bolehkan kami pinjam telefonnya sebentar untuk menelefon kantor polisi, karena di halte di depan sana ada seorang nenek meninggal dunia. Sepertinya ia mati kedinginan."

Perempuan tua ini mati bukan karena kedinginan tubuhnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan hangatnya dicintai oleh putrinya sendiri, yang tak pernah bisa ia rasakan lagi. Sungguh tragis yang dialami oleh nenek ini, namun kisah hidupnya mengingatkan kepada kita semua bahwa seorang ibu bisa melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Seorang ibu mendoakan dan selalu ingat akan anaknya. Seorang ibu mampu menerima dengan sabar seburuk apa pun sikap anaknya kepadanya.

Mari kita renungkan sebentar saja. Kapan terakhir kali kita menelefon ibu? Mengundang ibu? Mengajak ibu-ibu pergi jalan-jalan? Kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dan ucapan terima kasih untuk ibu? Dan kapan terakhir kali kita berdoa untuk ibu?

Wujud Cinta

Tiga tahun pacaran dan kini sudah menjelang dua tahun usia perkawinan, harus kuakui aku mulai lelah dengan semua ini. Semua yang dulunya menjadi alasanku mencintainya, kini telah berubah menjadi penyebab kegelisahanku. Aku termasuk orang yang amat sensitif dalam hal perasaan dan membina hubungan. Aku mendambakan saat-saat romantis, layaknya anak kecil mendambakan permen. Sebaliknya, suamiku sangat kurang sensitif, menurutku. Ia bukan orang yang bisa menghadirkan momen-momen romantis, dan itu membuatku patah semangat.

Suatu hari, akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengannya. Aku minta cerai.
"Kenapa?" Ia bertanya, terkejut. "Aku lelah, semua sudah hambar dan aku sudah kehilangan tujuan dari perkawinan kita!" Jawabku. Ia berdiam diri semalaman, sepertinya berpikir keras ditemani rokoknya. Rasa kecewaku semakin bertambah, inilah lelaki yang bahkan kesulitan mengekspresikan keadaan sulitnya,, apa lagi yang bisa diharapkan darinya? Benar yang orang katakan bahwa sulit untuk mengubah kepribadian seseorang, dan kurasa aku sudah mulai kehilangan keyakinan terhadap dirinya.

Dan akhirnya ia bertanya kepadaku, "apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu berubah pikiran?" Kutatap matanya sambil menjawab perlahan, "begini pertanyaannya, kalau kamu bisa jawab dan meyakinkan hatiku, aku akan berubah pikiran. Katakanlah, aku menginginkan bunga yang tumbuhnya di tebing sebuah gunung, dan kita berdua yakin jika memetik bunga itu kamu bisa mati, apa kamu tetap akan ambilkan bunga itu untukku?" Ia menjawab "akan kuberi jawabannya besok..." Mendengar responsnya, harapan-harapanku tenggelam seketika.

Aku bangun keesokan paginya dan ia sudah tidak ada di rumah, dan ada secarik kertas dengan tulisan tangannya, di atas meja makan. Isinya: "sayang... Aku aku tidak akan memetik bunga itu untukmu, tapi biarkan aku menjelaskan alasannya." Baris pertama ini saja sudah cukup menghancurkan hatiku. Aku teruskan membaca lanjutannya.
"Kalau kamu memakai komputer, kamu selalu bikin kacau program-programnya, dan kamu merengek di depan layar, dan aku harus menyisihkan jari-jariku untuk membereskannya. Kamu selalu meninggalkan kunci rumah kalau kamu pergi, jadi aku harus menyisihkan kakiku untuk buru-buru pulang dan membukakan pintu untukmu. Kamu suka pesiar dan selalu tersesat di kota yang baru, dan aku harus menyisihkan mataku untuk menunjukkan jalan. Kamu selalu kram kalau "tamu" bulananmu datang, aku harus menyisihkan telapak tanganku supaya aku bisa meredakan kram di perutmu.
Kamu suka berdiam di rumah, dan aku kuatir kamu bisa jadi kuper. Aku harus menyisihkan mulutku untuk cerita-cerita supaya kamu tidak bosan. Kamu sering menatap layar komputer, itu tidak baik untuk matamu, aku harus menyisihkan mataku supaya kalau kita sudah tua nanti, aku bisa memotong kukumu, dan mecabuti rambut uban. Jadi aku juga bisa menggandeng tanganmu saat berjalan menyusuri pantai, selagi kamu menikmati sinar matahari dan pasir yang indah... dan mengatakan kepadamu warna bunga-bunga, persis seperti warna yang terpancar dari wajahmu... Oleh karena itu sayangku, terkecuali aku yakin ada orang lain yang mencintaimu lebih besar daripada aku... aku belum bisa memetik bunga itu, dan mati."

Air mataku membasahi surat itu, dan melunturkan tulisannya... dan aku terus membaca.. "Sekarang, karena kamu sudah selesai membaca jawabanku, kalau kamu puas, tolong buka pintu depan, karena aku sedang berdiri di luar membawakan roti kesukaanmu dan susu." Aku bergegas membuka pintu, dan melihat wajahnya yg risau, dan di tangannya menenteng roti dan sebotol susu.
Kini aku sangat yakin tidak ada orang yang bisa mencintaiku seperti dia, dan aku sudah melupakan soal bunga itu.

Cinta hadir dalam wujud apa pun. Bunga-bunga dan hal-hal romantis, digunakan dan tampak hanya di kulit suatu hubungan. Di balik semua itu ada pilar cinta yang sesungguhnya.
Bukan kata-kata, tapi cinta yang memenangkannya.


>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya
>>> Info gadget-gadget keren
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Thursday, March 1, 2012

My Idiot Brother

Sebuah CERITA yang mengharukan dan mengandung pesan moral yang begitu dalam, tentang bagaimana seorang kakak yang idiot, berkorban demi adiknya... yang membencinya...
Baca di sini >>> My Idiot Brother