WISH FEMI HERBS

WISH FEMI HERBS

Tuesday, March 27, 2012

Nelayan Vs. Pengusaha

Seorang nelayan sedang bersantai di tepi pantai. Seorang pengusaha yang kebetulan lewat melihat nelayan itu dan mengajaknya berbincang-bincang. "Sedang apa nih Pak?" tanya si pengusaha.

"Saya sudah menangkap cukup banyak ikan untuk kebutuhan hidup keluarga saya, jadi tentu saja sekarang saya sedang bersantai saja menikmati keidahan ciptaan Tuhan.," jawabnya.

"Tapi Pak," si pengusaha menanggapi jawaban nelayan, "kalau Bapak tetap melaut dan bekerja lagi seharian, Bapak bisa dapat lebih banyak uang dan membeli kapal lagi kan? Kalau Bapak menanam uang, suatu hari Bapak bisa jadi orang kaya juga," si pengusaha menyarankan.

"Begitu ya... Lalu kenapa Saya harus seperti itu?" Tanya si nelayan.

"Yah... tidakkah Bapak sadar? Bapak akhirnya nanti bisa pensiun dan berlibur di pantai, menikmati ciptaan Tuhan deh," ujar si pengusaha bersemangat.

"Tapi... bukannya itu yang sekarang sedang saya lakukan?" Jawabnya.


>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya
>>> Info gadget-gadget keren
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Sunday, March 25, 2012

Harga sebuah Mukjizat


Sally baru berusia 8 tahun. Papa dan mama sedang berbicara serius tentang adik kecilnya, Georgi, yang sedang sakit parah, dan sepertinya tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan hidupnya. Hanya sebuah operasi yang mungkin bisa menolongnya, tetapi tentu saja biayanya amat mahal dan di luar kemampuan mereka. Sally mendengar papanya mengeluh dengan putus asa, "Kini hanya mukjizat yang bisa menolongnya."

Sally masuk ke kamarnya dan mengambil celengannya. Ia mengeluarkan semua isinya dan menghitungnya dengan teliti. Tiga kali hitung. Jumlahnya sudah benar, tidak mungkin salah. Ia membungkus uangnya dengan saputangan, lalu diam-diam ia pergi dari rumahnya menuju ke apotek di ujung jalan.


Sally menunggu dengan sabar sampai apoteker di sana melayaninya.... tetapi tampaknya ia masih terus sibuk berbicara dengan seorang pelanggan. Sally beberapa kali mencoba menarik perhatiannya, namun tidak berhasil. Akhirnya ia mengetuk-ngetuk kaca etalase. "Ada perlu apa?" tanya apoteker dengan nada sedikit kesal. "Saya sedang berbicara dengan kakak saya."

"Aku juga ingin bicara tentang adikku," Sally menjawabnya dengan nada kesal yang sama. "Dia sedang sakit... dan aku ingin membeli mukjizat."

"Maaf?" apoteker itu sedikit bingung.

"Kata papa, sekarang hanya mukjizat yang bisa menolongnya... jadi mukjizat itu berapa harganya?"

"Kami tidak menjual mukjizat di sini Nak. Aku tak bisa membantumu."

"Hei, aku punya uang lho. Berapa sih harganya?"

Seseorang yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu mendekati Sally, ia membungkuk dan bertanya, "Mukjizat seperti apa yang diperlukan adikmu, Nak?"

"Aku tak tahu," Sally menjawabnya, ia sudah hampir mulai menangis. "Aku hanya tahu kalau adikku sedang sakit parah dan kata mama harus dioperasi. Papa mama tidak punya uang... tapi aku punya."

"Kamu punya uang berapa?" tanya orang itu.

"Satu dolar sebelas sen," Sally menjawab dengan bangga. "Dan ini semua uang yang kupunya."

"Wah, kebetulan sekali," orang itu tersenyum. "Satu dolar dan sebelas sen... pas sekali dengan harga mukjizat untuk menolong adikmu." Ia mengambil uang itu dari tangan Sally, tangan yang satunya lagi menggenggam tangan Sally dan berkata "Ayo ajak paman ke rumahmu. Paman ingin bertemu dengan adikmu dan papa mamamu."

Orang itu adalah dr. Carlton Armstrong, ahli bedah ternama, spesialis penyakit yang diderita Georgi. Operasi itu berjalan lancar, bebas biaya apa, dan tak lama kemudian Georgi sudah boleh pulang ke rumah dan sehat.

Papa mama sangat bersemangat menceritakan tentang hal ini. "Operasi itu," kata mama, "adalah sebuah mukjizat. Sebenarnya kira-kira berapa ya biayanya?"

Sally tersenyum sendiri. Ia tahu persis berapa harga mukjizat itu. Satu dolar dan sebelas sen, ditambah keyakinan dari seorang bocah kecil.

>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya
>>> Info gadget-gadget keren
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Thursday, March 22, 2012

Jodoh

Dalam perjalanan pulang, aku menemukan sebuah dompet di jalan. Di dalamnya hanya berisi uang tiga dolar dan sebuah amplop surat yang sudah usang. Tertulis sebuah alamat di surat itu. Aku membuka amplopnya, siapa tahu ada informasi tentang pemiliknya.

Aku membaca surat itu. Tertanggal tahun 1924, ternyata surat yang sudah sangat tua. Tulisannya indah, sepertinya tulisan tangan seorang perempuan. Ditujukan kepada seseorang bernama "John", dan menceritakan bahwa si penulis surat tidak dapat menemui John lagi karena orang tuanya melarangnya. Namun demikian, tertulis di sana bahwa ia akan selalu mencintai John-nya.

Tertanda, Jane.

Surat yang indah, tapi akan sulit mencari tahu siapa pemiliknya hanya berbekal sedikit informasi seperti ini. Aku pikir mungkin bisa dimulai dengan menanyakan nomer telefon untuk alamat yang tercantum di amplopnya.

"Halo, operator," aku menelefon layanan informasi, "ini agak tidak biasa. Saya sedang mencari pemilik sebuah dompet yang saya temukan di jalan. Di dalam dompet itu saya menemukan sebuah surat dengan alamat yang tercantum pada amplopnya, apakah ada nomer telefon yang terdaftar untuk alamat itu.


Dia menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang kedengarannya sedikit ragu sesaat, lalumenjawab, "Ya, memang ada nomer telefon untuk alamat itu, tetapi kami tidak bisa memberikannya kepada Bapak." Lalu ia melanjutkan, sebagai gantinya, dia yang menghubungi nomer itu sekarang, menjelaskan sesuai ceritaku tadi, dan meminta mereka untuk menghubungiku.


Aku menunggu beberapa saat, lalu ia kembali, katanya, "Ada yang ingin berbicara dengan Bapak."

Suara di ujung sana seorang perempuan, aku segera bertanya apakah ia mengenal seseorang bernama Jane. Ia terkejut, "Oh! Kami membeli rumah ini dari sebuah keluarga yang putrinya bernama Jane. Tapi itu sudah 30 tahun yang lalu!"

"Apakah Ibu tahu keberadaan keluarga itu sekarang?" Aku bertanya.

"Aku ingat Jane sempat menitipkan ibunya di rumah jompo beberapa tahun lalu," katanya. "Kalau Bapak bisa menghubungi mereka, mungkin mereka dapat membantu Bapak mencari di mana keberadaan Jane sekarang."
Ia memberitahukan nama rumah jompo itu, dan aku segera menghubunginya. Kata mereka, wanita tua itu sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Tapi mereka punya nomer telefon tempat yang mereka pikir putri wanita itu tinggal sekarang.

Aku berterimakasih kepadanya, dan melanjutkan menelefon nomer yang barusan kucatat. Perempuan yang menjawab telefon menjelaskan bahwa Jane sendiri sekarang tinggal di rumah jompo.
Aku mulai berpikir rasanya semua ini begitu konyol. Buat apa juga dari tadi aku disibukkan oleh dompet yang hanya berisi uang tiga dolar dan surat yang sudah hampir berusia 60 tahun?


Tapi aku tetap menelefon lagi. Kali ini ke rumah jompo tempat di mana Jane seharusnya tinggal. Lalu orang yang menjawab telefon memberitahukan kepadaku, "Ya, Jane tinggal bersama kami."

Meskipun sudah pukul sepuluh malam, aku tetap minta diperbolehkan untuk mampir dan bertemu dengan perempuan bernama Jane ini. "Emmm...," dengan ragu, "kalau Bapak mau mencoba, ia tinggal di Blok 3, mungkin masih di ruang utama menonton televisi."

Aku berterimakasih kepadanya, lalu segera berangkat menuju rumah jompo itu. Petugas di sana menyambutku, lalu kami berjalan ke Blok 3. Di ruang utama, ia memperkenalkan aku kepada Jane.

Rambutnya sudah putih semua, ia seorang nenek yang manis, yang tersenyum dengan hangat dan matanya masih penuh semangat. Aku menceritakan pengalamanku menemukan dompet, dan menunjukkan surat itu kepadanya. Begitu ia melihat amplop biru muda dengan gambar bunga kecil di sisi kirinya, ia menarik nafas panjang dan berkata, "Nak, surat ini adalah terakhir kali aku berhubungan dengan John."

Pandangannya menerawang beberapa saat, lalu melanjutkan, "Aku amat mencintainya. Tetapi saat itu aku baru berumur enam belas,  dan ibuku menganggapku masih terlalu kecil. Oh, ia begitu tampan, mirip Sean Connery, sang bintang film."

"Ya," ia melanjutkan. "John Doe lelaki yang luar biasa. Kalau Kamu bertemu dengannya, tolong katakan kepadanya aku masih sering memikirkannya. "Dan," ia ragu sebentar, hampir menggigit bibirnya, "katakan kepadanya aku masih mencintainya.... Tahukah Nak," katanya sambil tersenyum dan air matanya mulai berkumpul membasahi matanya. "aku tidak pernah menikah. Menurutku tak ada satu pun yang sebanding dengan John..."

Aku berterimakasih kepada Jane dan pamit. Sambil berjalan ke luar, petugas di sana bertanya, "Bagaimana, apakah ada hasilnya?"

"Setidaknya aku mendapatkan nama belakangnya. Tapi rasanya saya akan membiarkannya dulu saja. Saya sudah menghabiskan waktu seharian untuk mencari pemilik dompet ini." Jawabku sambil mengeuarkan dompet itu dari saku.


Penjaga itu melihat sesaat dompet kulit dengan sedikit aksen merah di bagian pinggir di tanganku, kemudian ia berseru, "Hei, tunggu, itu dompet Mr. Doe! Saya tahu pasti, aksen merah itu. Ia selalu kehilangan dompetnya, saya sendiri sudah tiga kali menemukan dompet itu di sini."

"Siapa itu Mr. Doe?" Aku bertanya dengan bersemangat.

"Dia penghuni di sini, di Blok 8. Itu pasti dompet Mr. John Doe. Ia pasti menjatuhkannya lagi waktu bepergian." Aku berterimakasih kepadanya lalu segera berlari kembali ke kantor perawat. Aku menceritakan kepadanya apa yang di katakan petugas di luar tadi. Lalu kami sudah berjalan kembali menuju Blok 8, sambil berharap Mr. John Doe benar sedang berada di sana.

Sesampainya di Blok 8, perawat di sana berkata, "Kurasa ia masih berada di ruang utama. Beliau senang membaca di malam hari. Ia orang tua yang menyenangkan."

Kami berjalan menuju satu-satunya ruangan yang masih terang, ada seseorang sedang membaca buku. Perawat menghampirinya dan menanyakan apakah ia kehilangan dompetnya. Mr. Doe tampak terkejut, meraba sakunya, dan berkata, "Oh, dompet saya hilang!"


"Bapak yang baik hati ini menemukan sebuah dompet dan kami pikir mungkin dompet ini milik Bapak."


Aku menyerahkan dompet itu ke tangan Mr. Doe dan segera saja ia tersenyum lega dan berkata, "Ya, benar ini! Pasti terjatuh tadi siang. Saya ingin memberikan sedikit tanda terima kasih."


"Tidak perlu Pak..., terima kasih..." jawabku sopan. "Tetapi saya harus memberitahu sesuatu. Saya membaca surat di dalamnya untuk mencari petunjuk siapa pemilik dompet itu.


Senyum di wajahnya mendadak hilang. "Kau membaca surat itu?"

"Bukan itu saja, bahkan mungkin saya tahu di mana Jane berada."
Wajahnya segera pucat. "Jane? Kau tahu di mana dia? Bagaimana keadaannya? Apakah ia tetap cantik seperti dulu? Tolong, tolong beritahu saya," ia memohon.

Ia baik-baik saja... tetap cantik sebagaimana Bapak mengenalnya dulu." Aku menjawab dengan lembut.

Orang tua itu tersenyum dan segera bertanya, "Bisakah Kau beritahu di mana dia? Saya ingin menelefonnya besok." Ia mencengkeram lenganku dan melanjutkan, "Tahukah Nak, saya begitu jatuh cinta kepadanya, sampai waktu saya menerima surat itu, hidup ini bisa dikatakan sudah berakhir. Saya tidak pernah menikah, dan saya rasa saya selalu hanya mencintainya.

"Mr. Doe," kataku, "ayo ikut saya."

Kami berjalan menuju Blok 3. Ruangan-ruangan di sana sudah gelap, hanya beberapa lampu kecil yang menerangi koridor menuju ruang utama tempat Jane tadi menonton televisi sendirian.

Perawat mendekatinya. "Jane," katanya dengan lembut, sambil menunjuk ke arah John, yang sedang menunggu denganku di dekat pintu ruangan. "Kau kenal orang ini?"

Ia mengatur posisi kacamatanya sebentar, melihat sesaat, tapi tidak berkata apa pun. John berkata dengan lembut, hampir berbisik, "Jane, ini John. Kau ingat aku?"

"Ia terperanjat, "John! Yang benar, John? Kau kah itu, John ku!" John berjalan perlahan ke arahnya, dan mereka berpelukan. Aku dan si perawat meninggalkan mereka berdua, dengan air mata di wajah kami.

Kira-kira tiga minggu kemudian aku mendapat telefon di kantorku dari rumah jompo. "Bisakah Kau meluangkan waktu di hari minggu untuk menghadiri acara pernikahan? John dan Jane akan menikah!"

Acara pernikahan itu sangat indah, dengan semua orang yang berada di rumah jompo berpakaian pesta. Jane cantik dengan gaun pengantinnya, John gagah dengan tuxedo-nya. Mereka menjadikan aku sebagai pendamping pengantin pria.

Rumah jompo itu memberikan kamar tersendiri bagi mereka berdua. Kalau kamu ingin menyaksikan seorang pengantin wanita berusia 76 tahun bersama pengantin prianya yang berusia 79 tahun, bertingkah layaknya sepasang remaja kasmaran, maka lihatlah pasangan yang satu ini.

"Lihat kan," kataku. "Lihat kan Tuhan Yang Maha Kasih bekerja! Kalau memang berjodoh, maka pastilah terjadi."


>>> Langganan cerita-cerita di "Moral Compass"
>>> Cerita-cerita bagus lainnya

Bagus lah

Seorang raja di Afrika mempunyai seorang teman, teman sepermainannya sejak masih kanak-kanak. Temannya itu memiliki kebiasaan unik dalam memandang setiap situasi dalam hidupnya, dan selalu akan berkata, "Bagus lah!"

Suatu hari, mereka pergi berburu. Temannya menyiapkan senjata untuk sang raja. Kali ini sepertinya ia melakukan sedikit kesalahan dalam mempersiapkan senapan itu, karena ketika raja menembakkan senapannya, jari jempol sang raja justru cedera parah karena ledakan. Raja kehilangan jempolnya. Seperti biasa, setelah mengamati kejadian itu, temannya hanya mengatakan, "Bagus lah!". Raja marah, "Apanya yang bagus!" lalu raja memenjarakan temannya itu.

Setelah satu tahun kemudian, raja sedang berburu sendirian. Raja seharusnya sudah tahu bahwa seharusnya ia menjauhi daerah itu. Suku kanibal menangkapnya dan mengaraknya ke desa mereka. Mereka mengikat sang raja, menyiapkan kayu bakar, dan bersiap untuk memanggang dirinya.

Begitu persisapan selesai, mereka menyadari bahwa calon santapan mereka kali ini tidak memiliki satu jari jempolnya. Berdasarkan kepercayaan primitif mereka, pantang bagi mereka untuk menyantap mangsa yang anggota tubuhnya sudah tidak utuh lagi. Lalu raja pun dilepaskan pergi.

Sesampainya di kediamannya, ia teringat kejadian satu tahun lalu yang menghancurkan jari jempolnya, dan merasa bersalah atas tindakannya kepada sahabatnya sendiri. Segera ia menuju ke penjara untuk berbicara dengan temannya. "Kamu benar" katanya. Raja menceritakan pengalaman mengerikan yang nyaris merenggut nyawanya. "Bagus lah jari jempolku itu hancur waktu itu. Aku sangat menyesal telah memenjarakanmu begitu lama. Perlakuanku kepadamu sangatlah buruk." Demikian kata sang raja, menyesali keputusannya.

"Tidak, kawan..." Temannya menjawab sambil tersenyum, "bagus lah...!"

"'Bagus lah' bagaimana maksudmu? Aku memenjarakanmu sudah satu tahun, kok bagus???" Raja heran dan sedikit gusar dengan kebiasaan temannya yang satu ini.

"Kalau aku tidak dipenjara, aku pasti ikut berburu bersamamu."


Wednesday, March 21, 2012

Wortel, Telur, dan Kopi

Seorang gadis mengadu kepada ibunya, betapa hidupnya penuh dengan kesulitan tiada henti. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana mengatasinya dan ingin menyerah saja. Setiap satu masalah berlalu, selalu ada saja masalah lain bergiliran menderanya.

Lalu ibunya mengajak gadis itu ke dapur. Ia mengisi tiga panci kecil dengan air. Di panci pertama dimasukkan wortel, di panci ke-dua dimasukkan telur, dan di panci terakhir kopi bubuk. Kemudian ia merebus ketiga-tiganya. Mereka menunggu tanpa berkata sepatah kata pun.

Dua puluh menit kemudian, ia mematikan kompor, lalu memindahkan wortel dan telur, dan menuangkan kopi, masing-masing ke dalam sebuah mangkuk. Ketiga mangkuk itu ia letakkan di hadapan putrinya.

Ibunya bertanya, "Apa yang kamu lihat?" "Wortel, telur, dan kopi," jawab putrinya. Kemudian ibunya menyuruh putrinya untuk memegang wortel. Gadis itu menyentuhnya, ia merasakan wortel itu sudah menjadi empuk. Lalu ibunya mengambil telur itu dan memecahkannya. Sambil mengupas kulit telur, ia merasakan isi telur itu sudah menjadi keras. Terakhir, ibunya menyuruh putrinya mencicipi kopi. Putrinya tersenyum, menikmati kopi yang begitu harum dan kaya rasa.

"Tetapi, maksudnya apa ma?" Gadis itu bertanya dengan bingung. Ibunya menjelaskan bahwa mereka semua baru saja menghadapi lawan yang sama -air mendidih-, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel awalnya kuat dan keras. Namun, menyerah kepada air panas. Wortel melunak, dan menjadi lemah.

Telur mempunyai kulit yang keras, untuk melindungi isinya yang cair dan lembut. Namun setelah menghadapi air panas, isinya menjadi keras.

Tetapi kopi bubuk berbeda. Direbus dalam air mendidih, kopi justru mengubah air.

"Ketika kesulitan datang," ibunya bertanya, "bagaimana kamu meresponnya? Apakah kamu wortel, telur, atau kopi bubuk?"


Yang manakah kita? Wortel yang kelihatannya keras dan kuat, tetapi ketika menghadapi kesulitan, kita layu, melunak dan kehilangan kekuatan kita?

Apakah kita seperti telur, yang tadinya memliki hati yang lembut, namun karena menghadapi kehilangan, perpisahan, kesulitan keuangan, dan berbagai cobaan lainnya, hati kita mengeras dan menjadi kaku? Apakah tampak luar kita kelihatannya sama saja, tetapi sesungguhnya di dalam, hati telah berubah menjadi bebal?

Atau apakah kita seperti seperti kopi bubuk? Ketika air semakin panas, kopi mengeluarkan sarinya yang bermanfaat. Kopi menggunakan air panas, keadaan yang membawa rasa sakit, untuk mengubah dirinya sendiri dan air.






>>> Info gadget-gadget keren 
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Terdampar

Seorang korban kapal karam terdampar sendirian di sebuah pulau yang kecil tak berpenghuni. Ia terus berdoa dengan tekun supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari juga ia memandangi lautan, menunggu tim pencari, tapi tampaknya tidak kunjung datang juga.

Bersusah payah, akhirnya ia selesai membangun gubuk kecil dari kayu-kayu yang bisa ia temukan di pulau itu. Namun kemudian, suatu hari sepulangnya dari mencari makanan, ia mendapati gubuknya terbakar. Kini semuanya habislah sudah.

Ia sudah amat lelah dan marah dengan semua ini. Ia mengeluh, "Tuhan, mengapa ini semua terjadi kepadaku?" Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia terbangun karena suara kapal. Ya, sebuah kapal sedang menuju ke pulau itu, untuk menolongnya. "Bagaimana kalian bisa tahu aku ada di sini?" Ia bertanya kepada para awak kapal penolongnya.

"Kami melihat sinyal asap," jawab mereka.

Jikalau suatu hari gubuk kecil mu hangus terbakar, ingatlah, mungkin saja itu adalah sinyal yang memanggil kemuliaan Tuhan.

>>> Info gadget-gadget keren 
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu

Tuesday, March 20, 2012

Life is All About Choices

Sahabatku, John, kelihatannya tidak mengerti arti kesedihan. Sehari-harinya ia selalu ceria, tidak pernah mengeluh, dan selalu menyikapi hal apa pun dengan ringan dan santai. Ia adalah seorang manajer restoran yang unik dalam mengelola para bawahannya. Ia selalu mengajarkan mereka untuk melihat sisi baik dari setiap kesulitan yang mereka alami. Mereka menjadi sangat setia kepada John.

Suatu hari, karena aku begitu penasaran, aku bertanya kepadanya, aku tidak mengerti, bagaimana mungkin kamu bisa selalu ceria begitu setiap saat? Lalu dia menjawab, "Setiap pagi aku bangun tidur dan selalu berkata pada diri sendiri, John, kamu punya dua pilihan hari ini. Mau pilih bergembira, atau mau pilih bersusah. Aku memilih untuk bergembira. Setiap kali terjadi hal yang tidak menyenangkan, aku bisa memilih mau menjadi korban atau memilih untuk mengambil pelajaran darinya. Aku memilih untuk belajar. Setiap kali ada orang yang komplain kepadaku, aku bisa memilih untuk dongkol karena keluhan mereka, atau aku bisa mengambil sisi positifnya. Aku memilih sisi positifnya.

"Itu kan tidak gampang," aku menyela. "Gampang kok," kata John. "Kehidupan itu hanya masalah  pilihan-pilihan. Setiap situasi menawarkan pilihan. Kita memilih bagaimana kita bereaksi terhadap situasi. Kita memilih bagaimana orang lain memengaruhi mood kita. Intinya: bagaimana kita menjalani hidup, adalah pilihan kita." Aku merenungkan kata-kata John.

Tidak lama kemudian, aku memulai usahaku sendiri. Aku menjadi jarang berkomunikasi dengan John lagi, tapi aku masih sering mengingatnya setiap aku membuat berbagai keputusan dalam hidup. Lalu beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar tentang John. Pagi hari John membiarkan pintu belakang restoran tempatnya bekerja terbuka. Perampok masuk, dan John menjadi korban penembakan dalam peristiwa itu. Lukanya cukup fatal, namun beruntung, nyawanya  bisa diselamatkan karena ia cepat memperoleh pertolongan. Setelah operasi selama 18 jam dan berminggu-minggu dalam perawatan intensif, John diperbolehkan pulang ke rumahnya, dengan bekas luka tembakan di tubuhnya.

Kira-kira enam bulan sejak peristiwa perampokan itu, aku mengunjunginya. Aku bertanya kepadanya apa yang dipikirkannya saat kejadian perampokan itu. "Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah seharusnya aku mengunci pintu belakang restoran." Jawab John. "Lalu ketika aku terluka dan terbaring di lantai, aku ingat bahwa aku mempunyai dua pilihan: aku bisa memilih untuk hidup, atau memilih mati. Aku memilih hidup."

"Apakah kamu takut? Apakah kamu pingsan?" Aku bertanya. John melanjutkan, ".... petugas paramedisnya hebat. Mereka terus mengatakan kepadaku kalau aku akan baik-baik saja. Tapi ketika mereka melarikanku ke UGD, dari ekspresi dokter dan perawat di sana, aku benar-benar ketakutan. Di mata mereka, aku membaca 'dia tidak akan selamat'. "Aku harus melakukan sesuatu."

"Apa yang kau lakukan?" Aku bertanya. "Yah, ada seorang perawat berbadan besar yang meneriakkan berbagai pertanyaan kepadaku," kata John. "Dia bertanya apakah aku menderita alergi tertentu. 'Ya,' jawabku. Dokter dan perawat serentak menghentikan kesibukan mereka, menunggu jawabanku. Aku menarik nafas panjang dan berteriak, 'PELURU!' Mereka semua tertawa, aku berkata kepada mereka, 'saya memilih untuk hidup. Ayo segera operasi saya layaknya saya masih hidup, bukan sudah mati." 

Kini John bisa hidup berkat keterampilan dokter-dokternya, tapi juga karena sikapnya yang luar biasa. Aku belajar banyak dari John, bahwa setiap hari kita punya pilihan untuk hidup sebaik-baiknya.

Sikap, bagaimana pun juga, adalah segala-galanya.

>>> Info gadget-gadget keren 
>>> Gambar animasi lucu untuk Display Pic di BBM kamu